Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Sampah Elektronik Membeludak Hingga 49,8 Juta Ton di 2018
Kamis, 30 November 2017 | 14:43:23
Sampah elektronik ternyata tengah menjadi salah satu permasalahan utama bagi seluruh negara dunia. Sebab, semakin ke sini jumlah sampah elektronik kian bertambah. Setiap tahun, pertumbuhannya bisa meningkat lima persen.

Menurut penelitian dari United Nations University, jika diukur dalam skala global, jumlah sampah elektronik akan terus bertambah hingga 49,8 juta ton hingga 2018. Tingkat pertumbuhannya sendiri berkisar pada 4-5 persen.

Adapun benua 'penyumbang' sampah elektronik terbanyak di dunia jatuh pada Asia. Di Asia, jumlah sampah elektronik bisa bertambah hingga 63 persen dalam lima tahun (2010-2015). Demikian dilansir Forbes, Sabtu.

Pada kenyatannya, Asia memang merupakan benua dengan pasar dan industri elektronik terbesar. Mirisnya, perangkat elektronik yang digunakan ternyata memang tidak bisa didaur ulang atau bahkan digunakan kembali.

Sampah elektronik di Asia pada 2015 bahkan telah mencapai 12,3 juta ton. Jika dibandingkan, angka tersebut sama dengan 2,4 kali lipat dari berat Piramida Agung di Giza, Mesir.

Jika dikulik, Hong Kong dan Singapura ternyata menjadi negara dengan kontribusi tertinggi penyumbang sampah elektronik per kapita. Untuk Hong Kong sebanyak 21,7 kilogram, sedangkan Singapura 19,95 kilogram.

Paling Banyak dari Smartphone Bekas
Programme Officer UN Environment Jepang Shunici Honda mengatakan, kategori sampah elektronik paling banyak ternyata berasal dari smartphone bekas yang diekspor ke banyak negara, salah satunya Hong Kong.

Honda menyebut, Hong Kong menjadi pasar paling besar untuk perangkat elektronik yang didaur ulang alias refurbished.

"Biasanya sisa dari sampah dibawa pemulung dan dikirim ke tempat pembuangan akhir. Atau, bisa juga diekspor ke negara-negara yang ingin mengurangi pembakaran sampah elektronik," ujarnya.

Lantas, solusi pengurangan sampah elektronik (pembakaran dan penumpkkan) yang telah dilakukan beberapa negara di Asia dan Afrika, dipandang Honda berisiko membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Jadi, Honda menyarankan sampah elektronik--contohnya smartphone--jangan dibuang. Ia memberikan contoh perusahaan teknologi seperti Apple yang menerapkan daur ulang sampah elektronik dengan program trade in iPhone baru.

Caranya, iPhone yang lama akan dikumpulkan Apple, tapi tak akan dibakar. Mereka akan didaur ulang dan dijadikan sebagai material ubin, jendela, atau juga furnitur lainnya. (Liputan6.com/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU