Home  / 
Bangsa yang Dermawan
Kamis, 8 November 2018 | 12:12:48
Perubahan sosial budaya dengan penggunaan media sosial yang masif memunculkan stigma bahwa rasa kebersamaan, nilai-nilai gotong-royong hingga tenggang rasa akan berkurang. Memang benar, ada kecenderungan manusia makin egois, hanya mementingkan dirinya. Fakta ini bisa diamati dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, apakah itu merupakan sifat mayoritas rakyat Indonesia? Hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Sosial menunjukkan indeks rasa toleransi, gotong royong, tolong-menolong dan partisipasi sosial serta tenggang rasa masih tinggi. Nilai tenggang rasa mencapai 75,98. Itu merupakan nilai terendah jika dibandingkan nilai parameter lain seperti toleransi bernilai 88,17, gotong royong bernilai 87,59, tolong-menolong bernilai 88,45 dan partisipasi sosial 84,67.

Meski terendah dibanding yang lain, indeks di kisaran 75,98 masuk kategori baik. Kondisi ini mengandung arti bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya masih memahami, memiliki sikap dan melaksanakan nilai luhur yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial. Kesetiakawanan sosial masih menjadi pedoman dan pandangan hidup masyarakat dalam mengatur tata kehidupan serta mampu meminimalkan intoleransi di masyarakat.

Secara terpisah, Charities Aid Foundation (CAF), sebuah lembaga amal dari Inggris, menerbitkan laporan 2018 World Giving Index. Mereka menempatkan Indonesia di peringkat pertama negara paling dermawan di dunia.

Menurut lembaga itu, ada tiga perilaku untuk mengukur kedermawanan, yakni menyumbangkan uang, membantu orang asing dan menjadi sukarelawan.

Dalam hal menyumbangkan uang, persentase orang Indonesia yang melakukannya mencapai 78 persen. Lalu 46 persen orang Indonesia ringan tangan membantu orang asing. Kemudian, 53 persen orang Indonesia berpartisipasi menjadi sukarelawan.

Mungkin ada yang mempersoalkan metodologi survei yang dilakukan. Perlu diketahui, pelaksana surveinya adalah Gallup Internasional, sebuah lembaga polling yang sangat kredibel dan tertua di dunia. Ini didirikan pada 1947 oleh ahli statistik sosial Dr. George H. Gallup, sehingga laporan CAF bisa dipertanggungjawabkan akurasinya.

Secara turun temurun bangsa ini hidup dalam suasana kekeluargaan. Antara yang satu dengan yang lain ada hubungan sosial yang erat. Itu sebabnya, jika ada bencana, orang Indonesia tak ragu untuk membantu sesamanya. Penggalangan bantuan selalu dilakukan saat ada bencana.

Pola yang sama dilakukan dalam membangun rumah ibadah. Jemaat secara gotong royong mengumpulkan dana dan ada memberi tenaga. Secara sosial, terlihat dalam membangun rumah dan fasilitas umum. Patut dibanggakan, nilai sosial, kesetiakawanan, persaudaraan dan tolong menolong masih terpelihara hingga saat ini.

Nilai-nilai tersebut merupakan modal besar bagi bangsa ini untuk terus berkembang sebagai negara yang sejahtera. Tinggal bagaimana menggerakkannya secara tepat. Sebab jika disalahgunakan, ketulusan bisa berubah menjadi antipati bahkan perlawanan sosial. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU