Home  / 
Dunia di Ambang Perang Nuklir
Selasa, 23 Oktober 2018 | 10:46:40
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kontroversi. Negara Paman Sam ini disebut bakal mengakhiri perjanjian senjata nuklir dengan Rusia yang ditandatangani tahun 1987. Rusia dituding tidak menghormati kesepakatan itu dengan melakukan pelanggaran dalam beberapa tahun.

Kesepakatan nuklir yang akan diakhiri Trump itu adalah Intermediate-Range Nuclear Force Treaty. Ini ditandatangani mantan presiden Ronald Reagan dan mantan Presiden Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev pada Desember 1987. Isi perjanjian itu bertujuan membatasi peluncuran rudal balistik dan rudal penjelajah dengan jarak sekitar 300 hingga 3.400 mil.

Perjanjian tersebut memberikan perlindungan bukan saja bagi Amerika Serikat, tapi juga sekutunya di Eropa. Perjanjian ini juga menandai berakhirnya era Perang Dingin, saat mereka saling berlomba memproduksi senjata.

Catatan Asosiasi Pengawasan Senjata pada 2017, ada sekitar 15.500 hulu ledak nuklir di dunia. Amerika Serikat dan Rusia merupakan negara yang terbanyak memiliki hulu ledak nuklir atau 93 persen dari total senjata nuklir di dunia. Jika diledakkan, maka dalam waktu singkat akan membunuh jutaan orang dan meluluhlantakkan puluhan kota.

Misal, jika bom B-83, bom terbesar dalam persenjataan Amerika Serikat, diledakkan, maka diperkirakan 1,4 juta orang tewas dalam 24 jam pertama. Selanjutnya, 3,7 juta orang akan terluka dan radiasinya mencapai 13 kilometer. Begitu juga jika Tsar Bomba, bom terbesar milik Rusia dijatuhkan di New York, maka dalam tempo singkat 7,6 juta orang meninggal dan 4,2 juta orang terluka. Dampaknya akan dirasakan jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menilai penarikan sepihak AS akan sangat berbahaya dan mengarah pada pembalasan militer secara teknis.

Mereka berjanji mencari alasan sebenarnya di balik kebijakan Trump ini. Meski begitu, rencana balasan sudah disiapkan apabila benar AS mewujudkannya.
Ulasan New York Times pada Sabtu pekan lalu menarik. AS disebut bakal bisa menempatkan rudal penjelajah Tomahawk mereka dengan versi nuklir. Militer AS diduga bermaksud mendesain ulang rudal dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer tersebut bisa diluncurkan dari darat. Selain itu, kapal perang dan kapal selam yang sudah membawa Tomahawk konvensional bisa memasang ulang dengan menempatkan hulu ledak nuklir.

Hal ini bakal mendorong dunia ke ambang perang nuklir. Keputusan Trump bisa memprovokasi Rusia dan China mempercepat program pengembangan senjata mereka. Apalagi masih ada ketegangan di Laut China Selatan yang bakal melegitimasi pemasangan nuklir di fasilitas senjata mereka yang berkonflik.

Perlombaan senjata nuklir harus segera dihentikan. PBB sebagai badan harus mengambil sikap dengan menggelar sidang darurat. AS sebaiknya mengurungkan niatnya keluar dari kesepakatan senjata nuklir. Sebab jika benar terjadi perang nuklir, AS juga bakal menjadi korban. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Raih Action Star of the Year, Aktris Zimbabwe-Amerika Ungguli Chris Pratt dan Ryan Reynolds
Adjie Notonegoro Kini Mengembala, Berkesaksian di GBI GranDhika Medan
Hombo Batu Disuguhkan di Stosa Art Parade 3
Ratusan Petani Sirapit Unjuk Rasa di Kantor Bupati dan BPN Langkat
Jalan Desa Sopobutar-Pardomuan Dairi Rusak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU