Home  / 
Sinergi Indonesia dan Korea
Rabu, 12 September 2018 | 11:12:29
Indonesia telah memiliki sejarah panjang dengan Korea Selatan. Hubungan kedua negara bukan semata bisnis. Sama-sama anggota dari  G20 dan APEC, mereka secara resmi membentuk hubungan diplomatik pada 17 September 1973. Indonesia memiliki kantor kedubes di Seoul, dan Korsel di Jakarta.

Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) yang telah ditingkatkan sejak tahun 2017 menjadi special strategic partnership. Selain dalam hubungan bilateral, kerjasama kedua negara juga terjalin dalam forum internasional lainnya. Salah satunya, dalam forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) yang mempunyai tujuh area utama kerjasama, yakni melawan terorisme, komersial dan ekonomi, energi, pembangunan berkelanjutan, kesetaraan gender, operasi pemeliharaan perdamaian, tata kelola pemerintahan serta demokrasi yang baik.

Presiden Jokowi pada Minggu kemarin, mengunjungi Korea Selatan untuk bahas kerja sama ekonomi dan industri. Dia melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Korsel Moon Jae-in, menghadiri Forum Bisnis RI-Korsel dan pertemuan bisnis "one-on-one". Perusahaan dan institusi pemerintah Indonesia - Korea Selatan menandatangani 15 nota kesepahaman investasi. 

Kerja sama ini meliputi sektor energi, properti, mesin, teknologi, dan kosmetika. Total komitmen investasi yang bersifat business to business (B-to-B) dari hasil MoU tersebut mencapai 5,76 miliar dolar AS. Antara laim, Hyundai Engineering yang bermitra dengan PT Sulfindo Adiusaha untuk pengembangan pabrik kimia yang akan menghasilkan produk vinyl chloride monomer (VCM) dan poly vinyl chloride (PVC) di Merak, Banten dengan nilai investasi sebesar 200 juta dolar AS.

Ada juga pengembangan pabrik mesin diesel senilai 185 juta dolar AS yang dilakukan oleh Doosan Infracore dengan PT Boma Bisma Indra (Persero) dan PT Equiti Manajemen Teknologi. SD Biotechnologies menjalin kerja sama dengan PT Orion Pratama Sentosa untuk membangun industri kosmetika di Karawang, Jawa Barat senilai 20 juta dolar AS. Lalu terjalin kemitraan strategis di bidang pengembangan pusat teknologi alat-alat permesinan di Bandung, Jawa Barat yang merupakan kolaborasi Korea Institute for Advancement of Technology dan Kementerian Perindustrian.

Korea Selatan kini menjadi penanam modal terbesar ketiga di Indonesia dengan realisasi investasi di sektor industri dasar seperti baja dan petrokimia. Empat perusahaan manufaktur asal Korea Selatan memastikan komitmennya untuk tetap berinvestasi di Indonesia. Komitmen investasi itu akan direlisasikan baik melalui proyek baru maupun yang telah berjalan saat ini.

Perusahaan-perusahaan Korea Selatan di Indonesia sendiri saat ini telah menyerap sebanyak 900 ribu tenaga kerja. Tak hanya dari sisi investasi, neraca perdagangan Indonesia-Korea Selatan mengalami surplus sebesar  78 juta dolar AS dari total nilai perdagangan yang mencapai 17 miliar dolar AS. Diproyeksi nilai perdagangan kedua negara semakin meningkat dengan target sebesar 30 miliar dolar AS tahun 2022.

Hubungan baik dengan Korsel mesti dimanfaatkan pengusaha dalam negeri. Ada banyak potensi pasar di sana yang bisa digali. Memanasnya pasar global akibat perang dagang AS dan China, sebaiknya disiasati dengan memperluas pasar di Asia, seperti Korsel.

Kunjungan Jokowi ke Korsel membawa babak baru hubungan kedua negara. Peluang Indonesia berperan di semenanjung Korea sangat besar, terutama dalam membangun perdamaian Korut dan Korsel. Sinergi kedua negara merupakan kekuatan besar untuk membangun Asia, menghadapi persaingan global. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU