Home  / 
Tapanuli Perlu Semangat Gotong-royong
Senin, 10 September 2018 | 11:38:52
Fakta yang tak terbantahkan, dulu wilayah Tapanuli disebut peta kemiskinan. Tak perlu malu mengakuinya, sebab memang banyak warga yang belum sejahtera. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, antara lain karena banyaknya kebijakan pusat yang kurang berpihak ke Tapanuli saat itu.

Seiring waktu, Tapanuli berupaya bangkit lagi, dan kini sudah banyak perubahan. Angin segar ditiupkan pemerintahan Jokowi dengan memberi perhatian yang luar biasa. Infrastruktur dibangun secara besar-besaran. Jalan dan jembatan dibenahi, kini sebagian besar sudah mulus dan yang lainnya menunggu dibangun.

Untuk memerpendek jarak dunia internasional ke Tapanuli, dikembangkan Bandara Silangit, Taput. Kini sudah menjadi Bandara internasional, dan sudah ada beberapa rute penerbangan dari luar negeri ke sana. Bahkan menyusul Bandara Sibisa di Tobasa dipersiapkan untuk penerbangan domestik.

Potensi pariwisata Danau Toba yang selama ini terpendam, kini sudah bagaikan putri cantik yang baru bangun. Sudah ada badan otorita tersendiri yang mengurusinya. Memang masih terlalu dini mengatakan sudah berhasil, namun paling tidak sudah ada nyata perbaikan di sana-sini.

Perubahan di Tapanuli  menuju kejayaannya masih panjang. Harus diakui, masih banyak sektor-sektor yang perlu dibenahi. Bukan hanya pariwisata saja, tetapi sektor lain yang terkait langsung dengan masyarakat. Antara lain, pertanian, industri, transportasi, perdagangan, ekonomi kreatif, kesehatan, dan pendidikan.

Upaya itu tak mungkin hanya pemerintah pusat saja yang mengerjakannya. Semua pemangku kepentingan harus memberi dukungan dan mengambil bagian secara nyata untuk bekerja buat Tapanuli. Apakah itu pemerintah daerah, tokoh politik, tokoh masyarakat, pengusaha, tokoh agama, dan warga, semua mesti optimistis demi Tapanuli yang jaya dan sejahtera.

Tak mungkin tidak ada perbedaan pendapat di antara pemangku kepentingan. Janganlah perbedaan itu diperbesar-besar, sehingga menguras energi. Hendaklah semua berjiwa besar, mengesampingkan kepentingan pribadi, demi hal yang lebih besar, membangun Tapanuli.

Semua elemen harus memiliki persepsi yang sama, yakni Tapanuli masih perlu pembangunan lagi yang berkelanjutan. Jangan karena selisih paham elite lokal dan kelompok masyarakat tertentu, hal yang lebih besar terabaikan. Investor yang mau menanamkan modal bisa berpikir ulang, jika perbedaan pendapat itu dipolitisir menjadi sesuatu konflik yang luar biasa.

Sebaiknya para elite lokal membiasakan diri sebagai "anak ni raja", yang lebih memilih duduk bersama, bermusyawarah, elegan dan menghargai satu sama lain. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, asal mau berdialog. Tapanuli memerlukan semangat kegotongroyongan dari semua elemen bangsa. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anak Didik SMA GKPS 1 Pamatangraya Dapat Sosialisasi Bahaya Narkoba
Mendikbud Minta PPDB Ditiadakan Mulai Tahun Depan
Kemendikbud Siapkan Lulusan SMK Jadi Pengusaha
1.938 Siswa Ikut Dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional
Kunci Sekolah Bermutu Ada Pada Proses Pembelajaran
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU