Home  / 
Kemerdekaan Indonesia Hasil Perjuangan Bersama!
Kamis, 16 Agustus 2018 | 11:45:46
Besok, tanggal 17 Agustus 2018, Indonesia genap 73 tahun menikmati kemerdekaan. Satu hal yang membanggakan, kemerdekaan itu bukanlah hadiah atau pemberian. Melainkan diperoleh melalui perjuangan, mengorbankan air mata, darah, nyawa, harta dan segala-galanya. Jalur konfrontasi bersenjata dan diplomasi di meja perundingan, berjalan beriringan dan meraih kemerdekaan tersebut.

Sejarah mencatat kemerdekaan diraih melalui perjuangan bersama-sama semua elemen bangsa. Saat itu, tak ada yang mempersoalkan perbedaan atau membahas mayoritas minoritas. Masing-masing dari berbagai agama, etnis, ras dan golongan, semua bahu-membahu untuk tujuan yang sama yakni merdeka. Fakta sejarah terang benderang dan tak bisa dibantah. Lihatlah para bapak bangsa (founding father) yang sangat majemuk.

Kemerdekaan bukan hanya milik kelompok tertentu. Seolah mereka saja yang menjadi pemilik sah negeri ini dan yang lain anak kos. Itu sebabnya, para pejuang memutuskan Indonesia bukanlah negara agama! Bukan berarti tidak mengakui agama, sebab bangsa ini sangat religius, lihatlah pernyataan dalam mukadimah UUD 1945.

Harus diakui proses menjadi satu bangsa majemuk yang saling menerima dan saling menghargai, masih terus berlangsung serta belum selesai. Sebab generasi baru bermunculan dan mereka tidak mengalami secara langsung perjuangan merebut kemerdekaan. Tugas generasi yang lebih tualah yang menanamkan nilai-nilai kejuangan dalam meraih kemerdekaan.

Momentum Hari Kemerdekaan seperti ini sangat tepat menyegarkan ingatan bangsa ini bagaimana perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tak mungkin kemerdekaan bisa diraih jika sesama anak bangsa saling curiga, terpecah-pecah dan bertikai. Kalau semua kelompok mengedepankan politik identitas dan egois dengan kepentingannya, maka Indonesia takkan pernah merdeka.

Para penjajah yang ingin menguasai Indonesia bukan tak melihat besarnya potensi perpecahan tersebut. Mereka melakukan politik devide et impera (pecah belah, lalu kuasai). Indonesia adalah bangsa paling majemuk dari seluruh dunia. Bukan hanya agama dan etnis saja, termasuk pulau-pulaunya yang jumlah ribuan. Namun saat memperjuangkan kemerdekaan, semua bisa mengesampingkan egonya masing-masing dan bisa bersatu.

Belakangan politik identitas kembali menguat. Media sosial dieksploitasi untuk menyebar kebencian di antara sesama anak bangsa. Agama yang damai, dipolitisir sehingga rasa kebangsaan terkoyak. Para politisi yang ambisius  menjadikannya komoditi dalam politik, apakah Pilkada atau Pemilu. Demi kepentingan sesaat, sejarah dilupakan, bahwa negeri ini berdiri karena semua bersatu.

Upaya memecah belah bangsa ini dengan politik identitas tak boleh dibiarkan. Hal itu yang paling ditunggu negara-negara yang menganggap Indonesia sebagai kompetitor. Sebab mereka tahu, jika Indonesia bersatu, maka bangsa ini akan menjadi kuat dan sejahtera. Kita tak boleh masuk ke skenario asing membubarkan Indonesia.

Mari pusatkan energi untuk mengisi kemerdekaan dengan hal yang berguna. Jokowi telah menyerukan, ayo kerja dan kerja. Apapun profesimu, semua bisa berkarya di bidang masing-masing dan menorehkan prestasi yang membanggakan bangsa ini. Dirgahayu Republik Indonesia. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Diskusi Gugat Kongres, Mengurai Kusutnya Konstitusi IPPAT
Erry Nuradi dan Bobby Nasution Ramaikan Gerakan #2019 Kita Tetap Bersaudara dan Selamanya
Aksi Iriana Jokowi Gendong Bocah Papua di Punggung Curi Perhatian
Trump: Kesimpulan CIA Soal Pembunuhan Khashoggi Terlalu Prematur
Upacara Keagamaan di India Diguncang Bom, 3 Orang Tewas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU