Home  / 
Tuntaskan Kasus Kekerasan Terhadap Wartawan di Nias
Sabtu, 11 Agustus 2018 | 13:34:21
Kekerasan terhadap wartawan terulang kembali di Nias. Pelakunya diduga merupakan suruhan pejabat publik, yang digaji negara dengan menggunakan uang rakyat. Harusnya sebagai orang yang berpendidikan sudah lebih cerdas dan memahami bagaimana tugas pers. Jadi tidak perlu reaktif kalaupun ada pemberitaan yang dianggap keliru atau tak seimbang.

Mekanisme penyelesaian yang dapat ditempuh adalah melalui penggunaan hak jawab  dan hak koreksi (Pasal 5 ayat 2-3, UU Pers No 40 Tahun 1999). Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberikan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Pers berkewajiban memuat hak jawab dan hak koreksi. Bahkan ada atau tak ada penggunaan hak jawab dan hak koreksi, sesuai pasal 10 kode etik jurnalistik, disebutkan wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa. Artinya, segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar. Lalu, permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Untuk kasus di Nias yang mengancam wartawan harian ini, tidak ada pengajuan hak jawab atau hak koreksi diterima redaksi. Tiba-tiba wartawan mendapat ancaman dan intimidasi. Jika benar seorang pejabat yang menyuruh pelaku, harus menempuh prosedur sesuai UU Pers. Ini menjadi catatan bagi Kepala Daerah, penting memberikan pemahaman bagi para para pejabat dan ASN tentang bagaimana menyikapi pemberitaan dan memperlakukan wartawan. 

Jika tidak, peristiwa serupa akan terjadi di masa depan. Mungkin skala kekerasan makin besar, bukan hanya intimidasi saja. Pola pikir dan pola sikap pejabat dan ASN harus diubah. Pemerintah setempat bisa menggandeng organisasi wartawan atau Dewan Pers untuk melaksanakan edukasi tersebut. 

Memang wartawan sering menjadi sasaran kekerasan. LBH Pers mencatat ada 732 kasus kekerasan kepada jurnalis baik itu fisik maupun non fisik, pada periode tahun 2003 sampai akhir 2017.  Terdapat pola-pola kekerasan yang terjadi terhadap jurnalis. Misalnya, pembunuhan, intimidasi, pelarangan liputan, perusakan atau perampasan alat, penghapusan hasil liputan, kekerasan verbal, dan lain-lain.

Sementara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat dalam kurun waktu Mei 2017 hingga awal Mei 2018, tingkat kekerasan terhadap wartawan meningkat. Hasil tersebut terlihat dari laporan Bidang Advokasi AJI yang menyebut ada peningkatan sebanyak 3 kasus dari tahun sebelumnya dalam kurun waktu yang sama yakni 72 kasus menjadi 75 kasus. Terdapat 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis selama Mei 2017 hingga awal 2018. Kasus ini terjadi di 56 kabupaten kota di 25 provinsi.

Langkah melaporkan ke polisi sudah tepat. Sebab UU Pers mewajibkan perlindungan hukum bagi wartawan yang menjalankan tugasnya. Kapolres diharapkan memberi atensi dan jaminan keamanan bagi wartawan yang menjadi korban pengancaman. Hal itu untuk mencegah tindakan lain terhadap wartawan.

Pihak berwajib mesti menuntaskan masalah kekerasan ini. Bukan sekadar memberi hukuman, namun memberi efek jera dan pencerahan kepada yang lain. Apalagi diduga pelaku dan dalangnya bukanlah orang awam, melainkan pejabat yang berpendidikan tinggi. Kita berharap jangan ada lagi wartawan yang menjadi korban kekerasan.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
Mantan Sekjen PBB Kofi Annan Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Bertengkar dengan Suami, Ibu di Bolivia Gantung 3 Anaknya
Malaysia Cabut Undang-undang Anti-hoax yang Kontroversial
5 Tahun Beraksi, Anggota Jaringan Selundupkan 500 Ekor Cenderawasih
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU