Home  / 
Cerdas Sikapi Dinamika Politik
Jumat, 10 Agustus 2018 | 12:09:29
Hari ini direncanakan dua pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Situasi politik masih sangat dinamis, dan masih berubah di "injury time", detik terakhir. Perang di internal masing-masing kubu masih berlangsung.

Dinamika ini dipicu bergabungnya beberapa partai politik untuk mengusung kandidat presiden. Misal, pendukung Jokowi menjadi Capres ada sembilan partai politik. Di luar itu, ada di kubu pendukung Prabowo, yakni Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat. 

Siapa sosok Cawapres, memang sudah mengerucut. Di kubu Jokowi, muncul nama Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia. Rais Aam PBNU ini dinilai layak mendampingi Jokowi, di periode keduanya. Beberapa nominator yang menjadi ketua umum parpol, malah tersisih.

Di kubu Prabowo, hingga kemarin muncul nama Sandiaga Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kemunculannya agak diam-diam, dibanding nama-nama lain yang lebih dahulu berkibar. Meski masih mungkin ada tarik menarik hingga saat pendaftaran, sebab sebelumnya Demokrat kukuh dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pertemuan Prabowo dan SBY pada Kamis pagi diduga telah menemukan persamaan persepsi.

Masih ada kemungkinan muncul partai yang abstain atau tak mengajukan calon, meski sangat kecil. Sebab konsekuensinya sangat besar bagi partai tersebut, bisa-bisa kehilangan dukungan dari konstituennya, karena tidak memiliki Capres. Apalagi dalam Pemilu 2019, sistemnya berubah, sebab Pileg dan Pilpres digabung.

Publik diharapkan tetap tenang, meski tak terhindari bakal ada polarisasi. Ada di kutub Jokowi, sebagian di kutub Probowo, dan sisanya bisa netral atau masih mengambang. Perbedaan kandidat dukungan, tak boleh membuat putus tali silaturahmi.

Para kandidat memiliki peran penting memengaruhi psikologis pendukungnya. Jika pernyataannya provokatif maka kemungkinan terjadi konflik horizontal dan vertikal, tetap terbuka. Sebaliknya jika menyejukkan, maka suasana akan kondusif pula.

Rakyat Indonesia mesti lebih cerdas dari sebelumnya. Sebab bangsa ini telah pengalaman dalam berbagai Pemilu dan Pilkada. Harusnya, sudah dewasa dalam perbedaan, walau faktanya di akar rumput, banyak pemilih masih rentan terhadap provokasi dan agitasi.

Kita berharap Pemilu 2019 berjalan dengan aman dan damai. Ketegangan adalah hal yang wajar dalam sebuah pertarungan untuk menang. Namanya sedang berjuang menjadi Presiden, hanya jangan karena mencapai tujuan, semua dihalalkan, yang bisa menghancurkan bangsa ini. Tetap kepentingan bangsa dan negara yang utama. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sektor Swasta Diajak Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Infrastruktur di Danau Toba Terbaik dan Paling Cepat
Peredaran Hoax Makin Memprihatinkan
Bagikan Buku, Kapoldasu: Generasi Penerus Bangsa Harus Cerdas
4 Tersangka Kasus Khashoggi Diduga Orang Dekat Putra Mahkota Saudi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU