Home  / 
Hidup dalam Ancaman Banjir
Rabu, 11 Juli 2018 | 10:03:34
Banjir kembali menjadi momok yang meresahkan bagi warga Kota Medan. Beberapa lokasi tergenang banjir, dan ada yang tak bisa pulang karena akses jalan ke rumahnya terblokir air.  Ada yang harus mengungsi ke rumah tetangga dan keluarga. Ada juga warga yang terpaksa begadang semalaman karena harus menguras air dari dalam rumahnya.

Sebenarnya banjir bukanlah hal baru lagi bagi warga Medan. Masalah ini terulang setiap tahun. Pemerintah Kota boleh berganti, namun banjir masih tetap ada. Hujan deras saja dalam beberapa menit, air langsung menggenang, apalagi berjam-jam, air sungai bisa meluap ke permukiman warga.

Hal yang sama sebenarnya pernah dialami warga DKI Jakarta. Penanganan yang serius dan konsisten dari pemerintah setempat ternyata cukup ampuh. Tak ada lagi namanya genangan air berhari-hari. Banjir tetap ada, namun bisa cepat surut. Sebab ada tim yang siaga 24 jam untuk menanggulangi banjir.

Sayangnya, Medan masih belum berhasil mengatasi masalah banjir. Bukan tak berbuat, hampir setiap tahun ada proyek pengorekan drainase. Begitu juga revitalisasi sungai, baik Sungai Deli dan Sungai Babura, rutin dilakukan. Lalu, mengapa banjir masih rutin terjadi?

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. Antara lain tentu karena faktor alam, yakni tingginya curah hujan. Hal itu adalah faktor alam, yang sebenarnya sudah bisa diprediksi, sehingga harusnya telah ada antisipasi sejak dini. Warga diberi peringatan dan petugas teknis bisa bekerja untuk menjamin kelancaran air manakala banjir.

Faktor paling penting yang menyebabkan banjir sebenarnya karena rendahnya kesadaran warga. Secara kasat mata bisa dilihat sungai-sungai Kota Medan melimpah dengan sampah. Warga masih menganggap biasa membuang sampah ke selokan, parit dan sungai. Tak heran, drainase tersumbat dan saat hujan, langsung memicu banjir.

Persoalan lain yang tak kalah pentingnya adalah kesigapan petugas dalam turun ke lapangan untuk mengatasi banjir. Sebenarnya, dari pengalaman bertahun-tahun, potensi banjir sudah bisa dipetakan, di mana titik-titiknya dan penyebabnya. Harusnya sudah ada skenario dan panduan apa yang harus dilakukan pada saat banjir ketinggian 50 cm, 1 m dan seterusnya.

Petugas yang siaga seperti itu belum terlihat ada saat banjir. Penanganan masih parsial dan kasuistis. Saat banjir besar dan menarik perhatian publik, baru ada reaksi dari pemerintah setempat. Jadi penanganan banjirnya masih bersifat reaktif, dan belum tindakan yang berkelanjutan.

Warga Kota Medan tak perlu muluk-muluk untuk bebas dari banjir. Jika tak ada tindakan drastis, maka tak ada pilihan, harus hidup dibayang-bayangi ancaman banjir. Petakan sendiri lokasi mana yang rawan, dan hindari saat hujan agak lama dengan volume yang tinggi. Kita masih berharap ada program penanggulangan banjir yang benar-benar solutif di kota ini. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pansus R-APBD Desak Dinas PMPTSP Medan Tingkatkan Pelayanan dan PAD
Selamatkan Industri Pers dan Perbukuan Nasional
1 Bal Ganja Tak Bertuan Ditemukan di Lapas Klas IIB Tanjungbalai
Inas Hanura Tertawa Digugat Kader Gerindra Labuhanbatu Rp 45 Juta
Dukung Prabowo, PPP Muktamar Jakarta Siap Gerakkan Mesin Partai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU