Home  / 
Belajar Sportif dari Piala Dunia
Selasa, 10 Juli 2018 | 11:22:13
Turnamen bergengsi Piala Dunia 2018 segera berakhir. Rabu malam dan Kamis dinihari, bakal berlangsung semifinal, yang memertemukan Perancis melawan Belgia dan Kroasia versus Inggris. Siapapun pemenangnya di semifinal dan final nantinya, juaranya pasti dari Eropa.

Bola memang bulat dan sulit diprediksi. Buktinya, tim-tim unggulan malah tersingkir di babak penyisihan dan perempat final. Misalnya, siapa sangka Jerman, yang dijagokan banyak pihak, malah lebih dulu angkat koper. Biasanya perwakilan tim Amerika Latin selalu ada di semifinal, kini malah seperti Piala Euro, karena semua dari Benua Biru.

Ternyata di lapangan, tak ada tim kuat dan tim lemah (underdog). Banyaknya pendukung juga tak memengaruhi, buktinya tuan rumah Rusia, kalah dalam adu pinalti. Semua kemungkinan masih bisa terjadi, meski pelatih adalah pesohor dengan segudang taktik dan strategi. Malah yang tak dianggap justru melejit dan mengalahkan yang dielu-elukan.

Meski kalah, belum ada tawuran antarpendukung hingga bakar-bakaran seperti yang terjadi di Indonesia. Kesedihan dan kekecewaan tetap ada, namun dilakukan dengan santun. Sebaliknya, selebrasi kemenangan tetap ada tapi masih dalam koridor. Memang sportivitas merupakan kata kunci dalam permainan sepakbola.

Lihatlah bagaimana pemain mematuhi peluit wasit. Mereka yang melanggar aturan main, langsung ditindak di tempat. Ada yang diberi kartu dan ada hanya diperingati, dengan memberi hukuman tendangan bebas, bahkan pinalti. Semuanya mematuhi, karena itulah aturan dalam permainan bola.

Peraturan dalam bola awalnya hanya kesepakatan saja. Kemudian, dengan adanya FIFA, aturan menjadi mendunia, berlaku universal. Tak peduli negara kapitalis, komunis dan jalan tengah, semua mematuhi ketentuan yang sama. Negara kaya, miskin dan adidaya, tak mengenal diskriminasi dalam permainan ini.

Bukan tak ada kemungkinan adanya mafia bola yang mencoba mengatur hasil pertandingan. Isu seperti itu selalu ada di setiap kompetisi, termasuk Piala Dunia. Namun, banyaknya mata yang mengawasi membuat sulit untuk memengaruhi Piala Dunia. Apalagi teknologi sudah dilibatkan dalam mengawasi pertandingan.

Kita berharap bangsa ini belajar dari Piala Dunia, bagaimana cara bermain dan menjaga sportivitas. Tak ada jalan tol bagi keberhasilan, harus memadukan kerja keras dan kecerdikan. Jika menginginkan Indonesia berpartisipasi di ajang bergengsi tersebut, harus ada keseriusan, konsistensi, disiplin, dan kompetisi yang teratur.

Jiwa besar dalam menerima hasil patut diteladani. Tindakan memalukan seperti tawuran sesama supporter, mesti ditinggalkan, jika Indonesia mau besar. Sambil menikmati semifinal yang akan berlangsung besok, patutlah memetik hal-hal berguna dan membangun dari ajang Piala Dunia tersebut. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bertemu Pejabat Singapura, Ketua MPR Sampaikan Kondisi Politik RI
15 Hektare Hutan Konservasi di Riau Terbakar
Hari Ini, KPU Sampaikan Hasil Verifikasi Administrasi Bacaleg 2019
Bendera Peserta Asian Games Pakai Bambu, PDIP DKI: Tidak Pantas!
Jokowi Ajak Anak-anak Bermain dan Berdendang di Halaman Istana
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU