Home  / 
Keselamatan Penumpang Kapal Masih Terabaikan
Rabu, 20 Juni 2018 | 11:33:53
Memprihatinkan dan menyedihkan! Kecelakaan kapal kembali terjadi di Danau Toba. Padahal, luka akibat peristiwa tenggelamnya KM Peldatari I tahun 1997 masih membekas. Saat itu puluhan penumpang tewas, saat hendak berlabuh di Tomok, Pulau Samosir. Kini terulang lagi, saat KM Sinar Bangun berlayar dari Simanindo, ke Tigaras, Kabupaten Simalungun, pada Senin sekitar pukul 17.30 WIB.

Hingga kemarin, upaya pencarian korban masih terus berlangsung. Sayangnya, baru intensif dilakukan 12 jam setelah kejadian, yakni pada Selasa pukul 6.00 WIB. Memang beberapa jam setelah kejadian, sempat kapal ferry muncul di lokasi memberi bantuan. Antara lain dengan melemparkan pelampung ke danau. Namun, hanya beberapa orang yang bisa diselamatkan.

Buruknya cuaca dan gelapnya malam menjadi alasan. Sepintas memang, seperti masuk akal. Namun, ketahanan manusia bertahan di dinginnya air Danau Toba, harusnya menjadi pertimbangan. Ada pertanyaan, mengapa pada Senin malam, segala upaya tidak dikerahkan secara maksimal, seperti mengirim speedboat, yang dengan lincah bisa mendekati korban, dibanding kapal ferry.

Berapa sebenarnya jumlah penumpang dan barang apa saja yang KM Sinar Bangun masih misteri. Semua data yang dirilis masih perkiraan. Mengapa? Sebab manifest penumpang tidak ada. Hal ini sudah 'kebiasaan' di Danau Toba. Entah kenapa, hal itu bisa berlangsung bertahun-tahun.

Kita baru tersadar pentingnya manifest penumpang, saat terjadinya musibah seperti saat ini. Petugas hanya mengandalkan pengaduan warga tentang kerabat atau kenalannya yang diduga tenggelam. Padahal data tersebut sangat sulit diverifikasi, apakah memang benar ikut naik kapal tersebut, atau justru sebaliknya
.
Peristiwa ini menjadi potret buruknya jaminan keselamatan bagi penumpang kapal di Danau Toba. Penumpang masih diabaikan keselamatannya. Sebab ternyata pelampung sangat minim, bahkan tak ada disediakan untuk penumpang. Kadang, ada pelampung di kapal, namun hanya pajangan saja, atau mungkin syarat mendapatkan  izin berlayar.

Padahal, Kementerian Perhubungan memiliki aturan keselamatan penumpang di kapal. Ada Instruksi No. UM.008/I/II/DJPL-17 tertanggal 3 Januari 2017 tentang Kewajiban Nakhoda dalam Penanganan Penumpang Selama Pelayaran. Disebutkan, nakhoda wajib mengecek kesesuaian antara jumlah penumpang dalam manifest dan jumlah penumpang yang ada di atas kapal yang memiliki tiket. Awak kapal juga wajib melakukan pengenalan penggunaan baju pelampung dan menunjukkan jalur keluar darurat (emergency escape), tempat berkumpul (muster station) serta perintah penyelamatan diri kepada penumpang kapal.

Selain itu, awak kapal juga wajib menunjukkan tempat-tempat penyimpanan alat keselamatan kapal dan pengoperasiaanya. Bagi kapal tradisional, penumpang juga wajib memakai jaket penolong (life jacket).  Bahkan, nakhoda wajib menginformasikan keadaan cuaca perairan sekitar selama pelayaran, perkiraan cuaca ketibaan dan perkiraan waktu tiba; mengarahkan kapalnya untuk berlindung pada tempat perairan yang aman pada saat kondisi cuaca buruk.

Kapal yang berlayar juga diminta menggunakan dan mengaktifkan semua sarana navigasi, sarana radio komunikasi serta perangkat pemantau cuaca yang ada di atas kapal seoptimal mungkin dalam rangka keselamatan pelayaran dan menggunakan kecepatan aman. Apakah semua ini sudah dipatuhi kapal-kapal di Danau Toba? Instansi terkait mesti memberi penjelasan, dan evaluasi secara serius demi perbaikan ke depan. Bagaimana pariwisata Danau Toba akan berjaya, jika keselamatan pengunjung diabaikan?(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pikirkan Sejenak, Apakah Kita Sudah "Dikendalikan" oleh Smartphone?
Said Aqil: Pelaku Bom Bunuh Diri Buang Saja ke Laut
Kekurangan Penduduk, Kota di Jepang Kesulitan Cari Ninja
Gempa 5,5 SR di Padang, 1 Warga Tewas
Ada 1.000 Triliun Ton Berlian Tersembunyi di Bawah Bumi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU