Home  / 
Menggagas Homestay Khas Batak di Danau Toba
Minggu, 10 Juni 2018 | 15:18:44
Pemerintah pusat sedang dan akan membenahi infrastruktur Danau Toba. Jalanjalan dimuluskan, dan jembatan diperbaiki. Akses semakin beragam, tak lagi harus dari Kualanamu, kini yang menggunakan jalur udara sudah tersedia, dengan beroperasinya Bandara Silangit. Pemerintah daerah sudah berupaya berkreasi dengan membuat berbagai even menarik.

Pemkab Samosir misalnya, membuat agenda tahunan, dan secara intensif menyosialisasikannya. Festival Danau Toba masih andalan, dengan sistem tuan rumah bergilir. Perlu disadari kekuatan pariwisata Danau Toba bukan hanya keindahan panorama saja. Bukti ilmiah yang memastikan danau kebanggaan Indonesia itu berasal dari letusan Gunung Toba, mengundang ketertarikan pecinta ilmu pengetahuan. Danau Toba menjadi 'laboratorium' riset yang tiada habisnya.

Keunikan yang patut dibanggakan adalah kebudayaan Batak yang menarik perhatian turis dan para ahli. Kebudayaan bukan hanya adat istiadat saja. Koentjaraningrat menyebutkan ada tujuh unsur sebuah budaya, termasuk bahasa, kesenian, dan peralatan/teknologi. Semua itu menarik, bukan hanya dilihat sepintas, tetapi dipelajari dan dilakoni, walau dalam waktu relatif yang singkat. Sayangnya masih jarang ada paket wisata yang menawarkan konsep belajar kebudayaan dan 'hidup' sebagai orang Batak.

Di kawasan terpencil Pulau Samosir, bernama Silimalombu, ada seorang perempuan Batak menggagas homestay dengan konsep "living together" (hidup bersama) untuk turis asing. Wisatawan asing tinggal di sana bukan hanya sehari atau dua hari saja. Ada yang berminggu hingga berbuan-bulan. Selama tinggal di sana, mereka dianggap bukan sekadar tamu, namun sebagai 'anggota keluarga'.

Mereka masak bersama, makan bersama, pergi berladang bersama, dan aktivitas lainnya, termasuk berbaur dengan masyarakat lokal. Jadi turis 'benar-benar' larut dalam kehidupan di Danau Toba. Mereka menghirup udara, minum airnya, dan makan dari hasil bumi Danau Toba. Ternyata paket wisata ini menarik minat turis asing.

Homestay ecovillage tak pernah sunyi, kadangkala terpaksa menolak tamu, karena keterbatasan tamu. Kita berharap kebangkitan pariwisata Danau Toba berdampak kepada kesejahteraan masyarakat lokal. Bukan berarti investor tak penting, hanya maksimalkan dulu potensi yang dimiliki warga Danau Toba. Orang Batak banyak memiliki rumah besar yang bisa dijadikan sebagai homestay. Tak perlu mewah dengan biaya besar, sebab justru kesederhanaan dan gaya Bataknya yang menjadi daya tariknya. Pariwisata Danau Toba memerlukan uluran tangan dari semua pihak. Jangan bertumpu ke pemerintah saja. Hanya perlu dicatat, keterlibatan masyarakat lokal tak boleh diabaikan. Sekecil apapun potensi warga setempat, manfaatkan dan maksimalkan. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Melamar Wanita yang Sama, 2 Pria Berkelahi di Tempat Umum
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU