Home  / 
Merawat Bumi Demi Masa Depan Lebih Baik
Rabu, 6 Juni 2018 | 12:29:20
Kemarin, seluruh dunia memperingati World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Internasional. Ini merupakan salah satu program PBB untuk mendorong kesadaran menjaga lingkungan hidup. Tahun ini, India terpilih sebagai tuan rumah dengan tema utama penanggulangan melawan polusi plastik yang memang kian mencekik.

Semboyan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini: If you can't reuse it, refuse it. Intinya adalah, jika kamu merasa bahan plastik yang akan kamu pakai hanya berguna untuk sekali pakai dan tidak bisa digunakan lagi, sebaiknya tolak saja dan cari pengganti lain yang lebih reusable. Memang masalah sampah plastik menjadi momok bagi pelestarian lingkungan.

Berdasarkan laporan PBB, dunia menggunakan 5 miliar kantung plastik setiap tahunnya. Sebanyak 13 juta ton plastik di antaranya terbuang di laut setiap tahun yang bisa disetarakan dengan satu truk sampah penuh plastik setiap menitnya. Jumlah plastik yang diproduksi dalam kurun 10 tahun terakhir telah melampaui total plastik yang diproduksi satu abad sebelumnya. 

Pemilihan India sebagai tuan rumah tahun ini pun bukan tanpa alasan. India berada di urutan lima negara dengan polusi plastik terbesar. Mereka setiap tahunnya menghasilkan sampah plastik seberat 30 kapal Titanic, berarti 30 x 52.310 =  1,569,300 ton. Bagaimana dengan Cina di urutan pertama dan Indonesia di urutan kedua?

Indonesia tercatat menghasilkan sampah sebanyak 175.000 ton per hari dengan setiap orang menyumbangkan 0,7 kilogram sampah. Kondisi ini bisa makin parah ke depan. Harus ada tindakan drastis untuk menguranginya.

Pemerintah Indonesia secara formal telah berkomitmen mengurangi sampah plastik di laut sebanyak 70 persen, dan mengurangi limbah melalui reduce-reuse-recycle sebanyak 30 persen pada 2025. Ini diperkuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah. Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Sampah di Laut.

Aksi Nasional tersebut dilakukan di 26 kota yang memiliki pantai atau sungai besar bersama masyarakat, antara lain di Surabaya, Manado, Jakarta Utara, Denpasar, dan Banjarmasin. Safari bersih sampah di pantai dan laut dilakukan untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat peduli lingkungan. Pemerintah terus berkoordinasi dengan Ocean Foundation, dengan melakukan percobaan dengan memasang jaring dan menghisap sampah-sampah sebagai salah satu cara mengatasi masalah sampah di laut.

Namun gerakan secara formal tidak memadai. Harus ada edukasi dan sosialisasi agar hidup bersih menjadi gaya hidup. Penggunaan sampah plastik mesti dikurangi. Indonesia memiliki potensi yang luarbiasa untuk menggantikan plastik sebagai pembungkus.

Kita harus membiasakan diri memisahkan sampah organik dan anorganik. Sortir sejak dini sangat membantu upaya pelestarian lingkungan. Merawat bumi saat ini akan menentukan kualitas kehidupan manusia di masa depan. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Eramas Gelar Kampanye Dialogis dan Doa Bersama 23 Juni
Seribuan Warga Hadiri Halal Bi Halal Masyarakat Simalungun Bersama Djarot Saiful Hidayat di Perdagangan
FKI 1 Sumut Komit Dukung Paslon Bupati Dairi Nomor Urut 2
Warga Pinggiran Rel Berharap Pada Djoss Ada Pemondokan Layak
BEM se-Jabar Kirim Surat Protes ke Kemendagri Terkait Komjen Iriawan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU