Home  / 
Mencegah Capital Outflow
Kamis, 24 Mei 2018 | 10:37:05
Setelah delapan bulan menahan suku bunga acuan di level 4,25 persen, Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) menjadi 4,50 persen. Selain itu. rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen dan 5,25 persen. Tujuannya untuk meredam aliran modal keluar (capital outflow) yang membuat rupiah terus tertekan.

Rupiah sudah lama terpuruk terhadap dolar AS, bahkan terhadap mata uang kuat lainnya. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), telah terdepresiasi sekitar 4 persen ke level Rp 14.074 per dolar AS. Padahal, dalam APBN 2018, asumsi nilai tukar rupiah dipatok Rp 13.400.

Depresiasi rupiah menghajar sektor riil. Sebab konsumsi domestik masih ditopang barang impor. Pelemahan rupiah memicu inflasi barang impor (imported inflation). Daya saing produk dalam negeri akan turun, daya beli masyarakat terpukul, dan korporasi harus melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk melakukan PHK.

Meski begitu rupiah tak sendirian. Mata uang negara-negara lain juga sedang keok berhadapan dengan dolar AS. Pelemahan mata uang global antara lain dipicu ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, The Fed, bakal menaikkan Fed Funds Rate (FFR), sebanyak 2-3 kali lagi tahun ini.  Pada bulan Maret lalu mereka telah menaikkan FFR sebesar 25 bps ke level 1,5-1,75 persen.

Namun pasar bereaksi negatif terhadap kenaikan suku bunga acuan yang hanya 25 bps. BI dianggap ragu-ragu, kenapa tidak langsung 50 bps. Meski begitu sikap BI bisa dipahami, sebab kenaikan yang lebih dari 25 bps bisa jadi ditafsir oleh pasar sebagai tanda kepanikan. DGI tak mau dianggap panik dan keputusannya dinilai sebagai buah dari kepanikan.

Respons pasar bisa dilihat dari harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang beberapa hari sebelumnya sempat naik, kembali anjlok. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada dua hari terakhir pekan lalu, masing-masing, terjungkal 0,44 persen pada Kamis dan 0,56 persen di Jumat. Pemodal asing sepertinya lebih banyak melancarkan aksi jual dibanding aksi beli. 

Trump bisa saja dianggap presiden kontroversial karena berbagai pernyataannya. Harus diakui, ekonomi Amerika sedang membaik, sehingga meningkatkan kepercayaan publik. Banyak uang yang sebelumnya keluar AS, kini masuk kembali ke sana. Pembelian dolar AS meningkat tajam, sehingga memukul uang negara lain.

Pada kuartal pertama 2018, laju pertumbuhan ekonomi AS sebesar 2,3 persen dan inflasi 2,4 persen. Angka pengangguran sudah dipangkas ke level 4,1 persen dan optimistis pada akhir tahun 2018 bisa diturunkan lagi ke level 3,9 persen. Kenaikan FFR merupakan respons The Fed guna menghindari pemanasan mesin ekonomi.

Dalam situasi ekonomi yang mengalami keguncangan ini, stabilisasi mesti menjadi prioritas. Penaikan suku bunga adalah salah satu solusi efektif untuk menjaga stabilitas. Meski bukan satu-satunya, penaikan suku bunga akan menahan gelombang capital outflow. Tanpa kenaikan suku bunga, capital outflow bisa tak terkendalikan. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepergok Mencuri, Seorang Pria Dimassa Warga di Pematangsiantar
Simpan Sabu di Tempat Beras, IRT Dituntut 1 Tahun Suaminya 7 Tahun di PN Simalungun
Polrestabes Medan Ringkus Pelaku Penggelapan di Tangerang
Jual Sabu Tanpa Hak Dituntut 10 Tahun di PN Simalungun
Memperkosa Gadis Tetangga, Suratman Divonis 6 Tahun Penjara
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU