Home  / 
Kebangkitan Nasional di Era Digital
Senin, 21 Mei 2018 | 11:17:06
Kemarin, 20 Mei 2018, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tema tahun ini adalah "Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional di Era Digital". Ada dua penekanan, yakni soal SDM dan era digital yang merupakan realitas yang mesti dihadapi.

Hari Kebangkitan Nasional diambil dari tanggal kelahiran organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo). Organisasi ini didirikan para pelajar di School Tot Opleiding Van Inlands Artsen (STOVIA) di tahun 1908. Empat puluh tahun kemudian atau pada 1948 barulah Presiden Sukarno menetapkan 20 Mei sebagai hari bangkitnya nasionalisme.

Latar belakang penetapan Hari  Kebangkitan Nasional itu adalah pada awal kemerdekaan, Republik Indonesia membutuhkan pemersatu. Bung Karno menilai bahwa kelahiran Budi Utomo merupakan simbol untuk menggambarkan bagaimana bangsa Indonesia mulai bangkit  melawan penjajahan. "Kebangkitan" tersebut perlu dirawat agar tetap relevan dengan kondisi bangsa, di tengah komunitas internasional.

Dunia sedang diperhadapkan dengan era digital. Tantangan makin sulit terutama bagi Indonesia. Satu sisi, akan ada bonus demografi, yang menyebabkan banyaknya (calon) pekerja yang harus disediakan lowongan. Sementara, akibat digitalisasi yang ditandai penggunaan robot, membuat jutaan pekerjaan bakal hilang.

Era digital tidak bisa ditolak. Digitalisasi merupakan realitas, setuju atau tidak setuju, merupakan keniscayaan. Itu sebabnya, bangsa ini harus bersiap menghadapinya. Itu sebabnya tema Hari Kebangkitan Nasional ini, sangat tepat dengan kondisi saat ini. Kita berpacu dengan waktu memersiapkan SDM agar jangan tergilas di era digital.

Harus diakui bangsa ini agak gagap di era digital ini. Lihatlah bagaimana orang-orang menjadi "korban", saat menggunakan teknologi digital, seperti media sosial (Medsos). Kasus terorisme yang baru saja terjadi, ternyata juga menyeret beberapa orang yang sebenarnya tak terkait langsung termasuk dosen yang seharusnya intelek, akibat tak bijak dalam berkomentar di medsos.

Masih banyak menjadi objek, dan bukan subjek digitalisasi. Hal ini mesti dicegah, bangsa ini mesti dipersiapkan dengan matang. Di tahun 1908, Budi Utomo bisa berdiri dan melahirkan para pemimpin yang hebat. Padahal saat itu, Indonesia dalam kondisi dijajah, dan belum ada NKRI.

Modal mereka saat itu untuk bangkit adalah perasaan senasib sepenanggungan. Demi tujuan yang sama, Indonesia Merdeka, perbedaan agama dan suku tak dipermasalahkan. Semangat persatuan dan kesatuan itulah yang membuat Indonesia bisa melewati badai, dan memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945.

Meski masih gagap, bukan berarti Indonesia takkan berhasil di era digital ini. Presiden Jokowi sudah merilis persiapan tersebut melalui "Making Industry 4.0". Jadi sudah ada panduan untuk "kebangkitan nasional" di era digital. Tinggal bagaimana melaksanakannya secara serius. Selamat Hari Kebangkitan Nasional! (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Diperiksa KPK, Boediono Dicecar soal Fakta Sidang Perkara Century
Wagubsu Musa Rajekshah Peroleh Kehormatan Sampaikan Tausiyah
Eni Saragih Disebut Beri SGD 50 Ribu ke Idrus untuk Umrah
Payung Hukum Belum Ada, Anggaran Sudah Dipakai
Mukernas, Kader PPP Kubu Muktamar Jakarta Teriak ˋPrabowo Menangˊ
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU