Home  / 
Memanfaatkan Medsos Jadi Sarana Deradikalisasi
Kamis, 17 Mei 2018 | 13:16:49
Media sosial (Medsos) sangat populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penggunanya sangat beragam dari segenap lapisan usia, tergantung jenisnya. Instagram misalnya lebih diminati kalangan muda dan remaja, sedangkan Facebook disukai tua dan muda.

Penggunanya menjadikan Medsos layaknya ruang publik. Untuk aktualisasi diri dengan mengekspos video dan foto kegiatannya. Kemudian sarana berinteraksi dengan banyak kalangan. Beragam motif dan tujuan, ada yang iseng dan memang serius.

Itu sebabnya, di Medsos, banyak hal positif didapat. Misal, membangun jaringan, menambah perkenalan, belajar hal baru dan berbisnis. Sebaliknya hal negatif juga banyak saat bermedsos. Berbagai penipuan acapkali terjadi, trafficking, termasuk menjadi sarana komunikasi penjahat termasuk teroris.

Medsos memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Ibarat pisau, bisa dipakai melukai dan membunuh. Saat bersamaan, dapat digunakan memotong sayur dan hal bermanfaat lainnya. Jadi sebenarnya tergantung kepada orang yang menggunakannya, mau negatifnya yang menonjol atau positifnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah mengakui media sosial bisa menjadi sarana mendorong proses seseorang menganut radikalisme dan terorisme. Terkadang banyak orang tidak sadar sedang mengakses situs yang menyebarkan paham radikalisme atau terorisme. Sebab, tidak sedikit konten-kontennya dikemas dengan sangat bagus dan menyentuh.

Hasil penelitian yang dilakukan Solahuddin menunjukkan hal yang sama. Ternyata Medsos berperan memercepat tersebarnya paham radikal. Rata-rata hanya dua tahun. Berbeda saat Medsos belum berkembang, butuh waktu hingga 10 tahun untuk memutuskan sebagai teroris.

Kemenkominfo mencontohkan, sekitar dua tahun lalu ada sebuah video dengan sinematografi yang bagus di Youtube berjudul Ayahku Teladanku. Video tersebut film dokumenter yang bercerita tentang pelatihan perang terhadap anak usia pelajar menengah pertama. Film berdurasi sekitar 30 menit yang telah dihapus itu bertujuan mendorong orang menjadi radikal melalui media sosial.

Ini menunjukkan perekrut teroris memanfaatkan Medsos secara efektif. Bahkan anak-anak menjadi sasaran mereka. Lalu apakah karena begitu, Medsos mesti dilarang? Jangan karena sisi negatif, maka semua yang positif diabaikan?

Tak bisa dipungkiri, Medsos juga bisa dimanfaatkan untuk deradikalisasi. Sebaiknya pemerintah memaksimalkan Medsos sebagai sarana edukasi. Hanya kontennya harus didesain secara cerdas dan menarik, terutama bagi kalangan milenial. (**)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
6 Tim Senior Putra Dipastikan Lolos 8 Besar Turnamen Bola Voli
Turnamen Bola Voli Senior Putra di Pematangsiantar, Mangisi Lunggu Sidabutar SE Jagokan Kambat Simalungun
Kisruh Kepengurusan Percasi Asahan, Mandat Pengprov Sumut Dipertanyakan
Atlet Wushu Indonesia Raih Emas di Festival Shaolin China
PSSI Sering Terlambat Bayar Gaji Milla
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU