Home  / 
Hari Kartini Bukan Hanya Soal Kebaya
Sabtu, 21 April 2018 | 12:08:11
Setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Sejarah diperingatinya Hari Kartini pada tanggal 21 April adalah setelah ditetapkan  Presiden Soekarno dengan surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya sebagai hari besar.

Banyak orang mengisi Hari Kartini sebatas seremonial saja. Ada instansi pemerintah dan swasta mewajibkan pekerja perempuan menggunakan kebaya, lengkap dengan sanggul dan kondenya. Hari yang seharusnya menjadi kegembiraan, berubah menjadi 'beban', sebab pagi-pagi mesti ke salon dulu, sebelum berangkat kerja.

'Penderitaan' yang pernah terjadi tahun lalu, saat karyawati SPBU menggunakan kebaya. Bekerja di ruang terbuka, yang panas dan harus berdiri berjam-jam, membuat kaum perempuan yang harusnya bersukacita, menjadi 'mandi keringat'. Sungguh tak nyaman, namun harus dilakukan, sebab sudah perintah atasan.
Apa sebenarnya perjuangan Kartini yang patut direnungkan dan dilestarikan saat ini? Kartini meski anak bangsawan, hanya bisa sekolah hingga usia 12 tahun, di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Sejarah RA Kartini adalah sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Kartini adalah pelopor emansipasi wanita. Dia dengan gigih memperjuangkan hak seorang perempuan agar tidak diperlakukan 'underestimate' oleh kaum laki-laki.

Sayangnya menurut Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Giwo Rubianto Wiyogo, spirit Kartini belum menjadi mainstream dalam semua bidang. Faktanya, masih banyak kasus kejahatan siber yang menyasar kelompok perempuan, kekerasan perempuan, diskriminasi, perkawinan dini, trafficking, eksploitasi perempuan dengan berbagai cara. Tidak sedikit perempuan berpandangan bahwa adaptif dengan gaya hidup hedonis, materialistis merupakan "ciri perempuan modern" atau ciri wanita yang emansipatif. 

Kartini bukan saja memperjuangkan persamaan perempuan dan pria, tetapi menunjukkan betapa dahsyatnya manfaat literasi. Meski tak sekolah formal, dunia terbuka luas bagi Kartini, hanya karena membaca dan menulis. Hal ini juga surut dan kurang diteladani generasi muda sekarang. Harusnya Hari Kartini dimaknai juga sebagai Hari Literasi.

Kita mengapresiasi perjuangan Kartini dan perempuan Indonesia lainnya. Meski dinamai Hari Kartini, perempuan Indonesia yang telah berjuang untuk emansipasi harus dihargai juga. Tetapi jangan rayakan secara seremonial saja dengan berkebaya, tetapi ada perubahan nyata dalam keseharian, meningkatkan kualitas perempuan Indonesia, antara lain dengan membaca dan menulis.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Qualcomm Hadirkan Chipset Canggih untuk Ponsel Mid-Range
Sensor Sidik Jari dalam Layar Smartphone Apakah Bakal Populer?
Fakta-fakta Tentang Media Sosial yang Jarang Anda Ketahui
Indonesia Butuh Internet 5G untuk Industry 4.0
Bus Tanpa Sopir Bakal Mondar-mandir di GBK Selama Asian Games 2018
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU