Home  / 
Memahami Kegelisahan Pengungsi Sinabung
Jumat, 20 April 2018 | 11:26:42
Kemarin pengungsi Sinabung resmi mengajukan gugatan Citizen Lawsuit. Pemerintah Pusat dan Pemda Karo dinilai lalai mengatasi bencana erupsi tersebut.  Kinerja pemerintah terkesan lamban, tidak terkoordinasi dengan baik antara pusat dan daerah, kebijakan penanganan yang simpang siur dan berubah-ubah serta tertutupnya informasi bagi masyarakat korban terkait upaya-upaya penanggulangan yang akan dilakukan.

Ada beberapa alasan warga mengajukan gugatan. Pertama,  sejak tahun 2010, hingga saat ini masyarakat yang menjadi korban bencana letusan gunung Sinabung telah mengalami dampak negatif berupa perubahan kehidupan khususnya di bidang sosial dan ekonomi. Kedua, berdasarkan data dari Neumann Development Center (NDC), pada Januari 2014 tercatat sebanyak 28.221 orang atau 8.873 kepala keluarga dari 27 desa dan 2 dusun terpaksa harus mengungsi. 

Mereka berasal dari 27 desa dan 2 dusun. Ada 3 desa yang total tertimbun lava, yaitu Sukameriah, Bakerah dan Simacem. Desa ini dihuni 1.186 orang atau 347 kepala keluarga yang keseluruhannya terpaksa harus direlokasi. Lalu, terdapat 2.209 unit rumah permanen maupun semi permanen mengalami kerusakan, baik rusak berat, sedang maupun ringan. Kemudian, seluas 10.408 hektare areal pertanian rusak dan puso serta 19,78 hektare gagal panen. 

Warga kehilangan sumber penghasilan dan pekerjaan atau dengan kata lain tidak dapat melakukan aktivitas ekonomi. Kerusakan sarana dan prasarana, terdiri dari 5 unit balai pertemuan,10 unit rumah ibadah, 12 unit fasilitas kesehatan, 79 ruangan pendidikan, jalan sepanjang 5 kilometer. Pencemaran udara juga terjadi, berupa abu vulkanik yang mengandung bermacam-macam gas yang potensial mencemari udara, meracuni mahluk hidup dan menimbulkan bermacam penyakit.

Bencana erupsi menyebabkan kerusakan ekologi dan perubahan posisi tata ruang alam akibat terpaan material-material vulkanik. Kawasan hutan dan lahan pertanian hangus terbakar dan rusak, banjir lahar dingin saat musim hujan yang menerpa lahan pertanian dan rumah-rumah warga yang berada di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Sinabung. Masyarakat kehilangan tempat tinggal atau terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan tinggal di pengungsian, kehilangan pekerjaan/mata pencaharian (lahan pertanian rusak/hancur), terganggu kesehatan, dan anak-anak tidak bisa bersekolah.

Kita harus memahami kegelisahan pengungsi Sinabung ini. Sebab hingga kini erupsi belum terhenti. Ketidakpastian masih menghantui, sebab Sinabung bisa 'batuk' kapan saja. Bukan hanya abu yang dimuntahkan, kekhawatiran dan ketakutan juga menyebar. Tak seorang pun bisa memprediksi kapan bencana ini berakhir.

Kondisi erupsi masih berlanjut tak menghapus fakta bahwa pemerintah sebenarnya sudah berbuat. Presiden Jokowi saja sudah beberapa kali datang meninjau, berdialog dan mengambil tindakan, untuk mengurangi derita pengungsi. Pemerintah Pusat dan Daerah tampak bahu membahu sesuai kewenangannya untuk memulihkan dampak erupsi.

Sebaiknya semua pihak jangan saling menyalahkan akibat erupsi dan gugatan ini. Pengungsi Sinabung sebagai warga negara berhak menggugat. Namun, pemerintah juga harus diberi kesempatan menjelaskan apa yang sudah dilakukan selama ini untuk pengungsi. Kita harus memahami kegelisahan pengungsi, sebab bencana ini belum kunjung usai. Karena sudah masuk ranah hukum, mari hormati proses yang ada. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Qualcomm Hadirkan Chipset Canggih untuk Ponsel Mid-Range
Sensor Sidik Jari dalam Layar Smartphone Apakah Bakal Populer?
Fakta-fakta Tentang Media Sosial yang Jarang Anda Ketahui
Indonesia Butuh Internet 5G untuk Industry 4.0
Bus Tanpa Sopir Bakal Mondar-mandir di GBK Selama Asian Games 2018
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU