Home  / 
Indonesia Mesti Berperan dalam Krisis Suriah
Selasa, 17 April 2018 | 15:16:03
Masyarakat Rusia diminta mengantisipasi kemungkinan Perang Dunia III yang dapat dipicu oleh krisis yang terjadi di Suriah. Hal itu dirilis televisi milik pemerintah Rusia. Saluran TV milik Kremlin itu menyarankan pasokan ideal untuk bertahan hidup dan menginformasikan kepada warga untuk mengemasi yodium untuk melindungi tubuh dari radiasi saat berlindung di tempat penampungan korban bom.

AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan dari berbagai posisi terhadap Suriah pada 14 April. Rusia melaporkan sedikitnya 103 rudal jelajah udara dilepaskan melalui pesawat dan kapal laut ketiga negara tersebut dalam rentang waktu lebih dari satu jam dengan target Damaskus dan Homs. Seperti dilansir Reuters, serangan tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas serangan gas beracun yang menewaskan puluhan orang pekan lalu.

Moskow sebelum serangan ini sudah menegaskan akan membalas setiap serangan Amerika Serikat yang ditujukan pada Suriah. Pasalnya, selama ini Suriah dikenal sebagai sekutu Rusia di Timur Tengah. Respons keras dari Rusia ini bisa berarti akan mengakibatkan dua negara super power itu terlibat perang terbuka. Dengan senjata pemusnah massal yang dimiliki keduanya, peperangan AS dan Rusia bisa memicu Perang Dunia III.

Rusia, sebagai sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengecam Amerika Serikat (AS) atas serangan udara yang dilancarkan ke Suriah, seperti halnya Iran. Hasil voting dalam pertemuan darurat Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menunjukkan perpecahan dukungan. Ada negara yang meminta pihak yang terlibat konflik regional itu untuk menahan diri dan tidak melakukan serangan lanjutan, ada pula yang mendukung terjadinya serangan tersebut.

Beberapa negara di Timur Tengah serta organisasi internasional menyuarakan dukungan mereka untuk aksi udara yang dipimpin AS itu. Pemerintah Arab Saudi dan Turki menyatakan dukungan penuh terhadap serangan ke Suriah. Sebaliknya, Iran mengecam dan memeringatkan AS dan sekutunya akan menghadapi konsekuensi besar atas aksinya ini.

Melalui situs resmi Kementerian Luar Negeri, pemerintah Indonesia menyatakan prihatin terhadap perkembangan yang terjadi di Suriah. Sebelumnya Kemenlu telah mengeluarkan kecaman terhadap penggunaan senjata kimia di Suriah oleh pihak manapun. Indonesia mengimbau agar semua pihak menahan diri dan mencegah terjadinya eskalasi memburuknya situasi di Suriah.

Indonesia, demikian keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, menegaskan kepada semua pihak untuk menghormati nilai dan hukum internasional, terutama piagam PBB tentang keamanan dan perdamaian internasional. Keamanan dan keselamatan masyarakat sipil terutama perempuan serta anak-anak merupakan prioritas. Penyelesaian konflik Suriah, Indonesia kembali menekankan pentingnya dilakukan negosiasi secara menyeluruh dengan cara-cara damai. 

Diharapkan Indonesia tidak hanya mengeluarkan imbauan saja. Tetapi berperan aktif mendorong dihentikannnya serangan ke Suriah, dan semua yang bertikai duduk di meja perundingan. Tuduhan penggunaan senjata kimia mesti diklarifikasi dan dibuktikan. Lalu pelakunya yang dihukum, bukan malah perang yang menimbulkan jatuhnya korban tak berdosa.

Perang Dunia III bisa saja terjadi, jika konflik Suriah akhirnya membenturkan AS dan Rusia secara frontal. Jika itu yang terjadi, maka bukan hanya Timur Tengah yang menjadi korban, Indonesia bisa terseret. Antisipasi mesti dilakukan, baik secara pertahanan keamanan, sosial politik dan ekonomi. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gubsu: Ulama sebagai Tempat Mengadu
Wakil Dubes AS Bahas Persoalan Perempuan dan Anak, Termasuk Investasi di Sumut
Menlu Retno Resmikan Gedung KJRI di Chicago
KPU RI Tetapkan Komisioner KPU Sumut Periode 2018-2023
JK Pimpin Delegasi Indonesia di Sidang Umum ke-73 PBB
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU