Home  / 
Buktikan RI Bukan Lagi Penyumbang Sampah Plastik Nomor Dua
Jumat, 23 Maret 2018 | 09:39:42
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyangkal Indonesia masih bertengger sebagai negara penyumbang kedua sampah plastik ke laut. Menurutnya, informasi tersebut menggunakan data tahun 2015.  Sebab dalam kurun waktu dua tahun terakhir, berbagai komunitas peduli sampah bersama pemerintah Indonesia telah bergerak luar biasa.

Memang berdasarkan studi University of Georgia di Amerika Serikat yang dirilis pada 2015,  Tiongkok menempati posisi pertama, sedangkan Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia. Sisa dari daftar negara penghasil sampah mencakup 11 negara Asia lainnya, Turki, lima negara Afrika, dan Brasil.

Ternyata, hampir 80 persen sampah laut ternyata berasal dari daratan. Jadi hanya 20 persen yang memang dibuang melalui aktivitas di laut. Artinya, sampah dari darat masuk ke laut melalui dua jalur. Pertama, sampah dibuang  ke sungai dan dibawa ke laut melalui muara. Kedua, sampah dibuang di pantai, dan selanjutnya ombak menyeretnya masuk ke laut.

Pemerintah pusat di bawah koordinasi Menko Maritim bersama dengan Pemerintah Daerah, saat ini sudah mengambil langkah-langkah penanganan mengatasi sampah plastik di pantai dan laut di seluruh Indonesia. Kemenko Maritim bekerja sama dengan World Bank. Ada juga kajian sampah plastik di laut pada 20 lokasi, antara lain di Kota Denpasar, Bali.

Pemerintah Indonesia secara formal telah berkomitmen mengurangi sampah plastik di laut sebanyak 70 persen, dan mengurangi limbah melalui reduce-reuse-recycle sebanyak 30 persen pada 2025. Ini diperkuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah. Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Sampah di Laut.

Aksi Nasional tersebut dilakukan di 26 kota yang memiliki pantai atau sungai besar bersama masyarakat, antara lain di Surabaya, Manado, Jakarta Utara, Denpasar, dan Banjarmasin. Safari bersih sampah di pantai dan laut dilakukan untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat peduli lingkungan. Pemerintah terus berkoordinasi dengan Ocean Foundation, dengan melakukan percobaan dengan memasang jaring dan menghisap sampah-sampah sebagai salah satu cara mengatasi masalah sampah di laut.

Pemerintah perlu membuktikan semua aksi yang dilakukan membuahkan hasil. Karena sudah terbukti ada beberapa negara yang sukses mengurangi sampah plastik laut. Misalnya di Rio, Brazil, dan di Colombia. Ternyata pencemaran di laut bisa dikendalikan dengan metode tertentu. Hanya butuh keseriusan untuk mengurusnya.

Menyangkal saja tak memadai untuk membenarkan Indonesia telah turun peringkat sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Sebab hingga kini belum ada data terbaru yang dirilis. Artinya, meski data yang dikutip tahun 2015, tetap masih relevan untuk dikutip, meski sudah gencar dilakukan tindakan perbaikan.

Bila perlu lakukan penelitian secara nasional, berapa sebenarnya volume sampah plastik di laut. Lalu berapa banyak yang berhasil direduksi melalui Aksi Nasional Pengelolaan Sampah di Laut. Tanpa memberikan data pembanding, maka peringkat nomor dua Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik laut masih akan tetap tercatat, paling tidak dalam rekaman digital di internet. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jalan Menuju Nagori Siatasan Butuh Perbaikan
Bupati Karo Bersama Forkopimda Gelar Off-Road di Uruk Ndoholi Tiga Binanga
Kejaksaan akan Panggil PS dan RS Tersangka Dugaan Korupsi di Dairi Tahun 2008
KPUD Langkat Minta Parpol Mendaftar Sebelum Waktu Penutupan
Pemkab Langkat Apresiasi Ranperda Inisitif DPRD Urgen dan Relevan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU