Home  / 
Rasa Khawatir Bubar Harus Kalah Oleh Optimisme Tetap Satu
Kamis, 22 Maret 2018 | 12:41:17
Indonesia merupakan negara yang unik. Sebab terdiri dari lebih 17 ribu pulau, dengan 1.340 etnis, 6 agama dan ratusan penganut kepercayaan. Penduduknya saja ada 250 juta jiwa, yang tinggal di 34 provinsi. Wajar ada banyak aspirasi, yang tentu secara teori, potensi konfliknya sangat tinggi.

Jagad media sosial saat ini ramai tentang ramalan bubarnya Indonesia pada 2030. Pemicunya adalah seorang mantan calon presiden, yang pernah menjadi komandan di pasukan khusus, dan ketua umum partai politik. Harusnya pemahamannya tentang persatuan dan kesatuan tak diragukan lagi. Apalagi pernah menjadi anggota TNI, yang loyalitasnya tinggi ke negara ini.

Sebenarnya, ramalan Indonesia bakal bubar, bukan kali ini saja. Djuyoto Suntani misalnya pernah menulis buku pada tahun 2008 berjudul "Tahun 2015 Indonesia". Sekarang sudah tiga tahun setelah ramalan tersebut, ternyata tidak terbukti.  Tahun 2015, bekas penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua memprediksi sekitar tahun 2050 Indonesia akan terpecah-pecah menjadi 12 negara baru.

Gerakan memisahkan diri dari Indonesia sudah beberapa kali terjadi. Mulai pemberontakan PRRI/Semesta, DI/TII hingga pemberontakan RMS. Pernah ada aksi separatis dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka), yang berakhir damai. Hingga kini masih ada perlawanan dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Satu-satunya yang berhasil memisahkan diri melalui referendum adalah Timor Timur, yang sekarang menjadi Timor Leste.

Negara yang memiliki pengalaman pahit bubar adalah Uni Sovyet. Dari negara adidaya hancur berkeping-keping menjadi 15 negara. Yugoslavia terbagi menjadi enam negara. Cekoslowakia terpisah menjadi dua negara. Alasannya bukan hanya soal politik, tetapi ada persoalan etnis dan keyakinan yang berbeda. Di sisi lain ada negara yang etnis dan agamanya sama, namun memiliki negara yang berbeda, Korea Utara dan Korea Selatan.

Artinya, persoalan etnis dan agama tidak selalu pemicu bersatu atau bubarnya negara. Persatuan dan kesatuan bangsa lebih terkait konsensus bersama. Kaum muda mengawali terbentuknya roh persatuan dan kesatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Saat itu pemuda yang hadir sangat beragam etnis dan agama.

Suasana kebatinan pendiri negara ini bisa dilihat dalam risalah BUPKI (Sidang Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Betapa saat itu ada perdebatan keras, namun berakhir dengan konsensus. Memang para pemimpin bangsa ini memiliki jiwa besar, yang melihat kepentingan yang lebih besar.

Tujuan dan latar belakang yang sama yang membuat suku-suku, daerah dan agama memilih bersatu menjadi Indonesia. Komitmen itu tampak jelas dalam Pancasila dan UUD 1945. Hal itu yang membuat Indonesia tetap bertahan hingga kini sebagai NKRI. Meski begitu, ancaman untuk membubarkan negeri akan tetap ada di masa depan, apabila ketidakadilan, diskriminasi, korupsi, intoleransi dan radikalisme merajalela.

Para politisi negeri ini sebaiknya berhenti mewacanakan negara bubar. Lebih baik fokus bagaimana membangun bangsa ini, merawat kebhinnekaan dan menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Ayo beberkan konsepmu bagaimana memajukan Indonesia. Khawatir akan bubar boleh-boleh saja, namun jangan lebih besar dari optimisme tetap satu untuk tumbuh menjadi negara besar. (**)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jalan Menuju Nagori Siatasan Butuh Perbaikan
Bupati Karo Bersama Forkopimda Gelar Off-Road di Uruk Ndoholi Tiga Binanga
Kejaksaan akan Panggil PS dan RS Tersangka Dugaan Korupsi di Dairi Tahun 2008
KPUD Langkat Minta Parpol Mendaftar Sebelum Waktu Penutupan
Pemkab Langkat Apresiasi Ranperda Inisitif DPRD Urgen dan Relevan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU