Home  / 
Kesehatan Anak Masih Memprihatinkan
Kamis, 15 Maret 2018 | 15:51:14
Masa depan bangsa ini adalah anak-anak. Mereka mesti menjadi prioritas, jika menginginkan Indonesia tetap ada hingga ratusan, bahkan ribuan tahun mendatang. Apa yang dialami generasi muda sekarang, merupakan investasi, dalam arti positif dan negatif, yang kelak baru terasa dampaknya.

Kecerdasan dan kekuatan seorang anak dimulai sejak kandungan. Asupan gizi harus memadai, dari masih janin hingga masa kanak-kanak. Pada periode itulah masa pembentukan otak anak, dan perkembangan fisiknya. Jika masa kecil saja suram, kurang gizi dan perhatian, pasti akan masalah, bukan hanya sekarang, tetapi juga  setelah besar.

Pemerintah sudah berupaya memperjuangkan kesehatan ibu dan anak. Meski tak diatur detail dalam konstitusi, anggaran untuk kesehatan cukup besar, dari APBN hingga APBD. Tenaga medis terus direkrut dan diprioritaskan diangkat menjadi ASN, secara khusus untuk daerah tertinggal dan perbatasan.

Sayangnya, upaya pemerintah masih perlu ditingkatkan. Sebab data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, balita yang mengalami stunting jumlahnya mencapai 37 persen dari anak balita Indonesia. Itu berarti 9 juta anak balita yang bakal kerdil. Bukan hanya pendek, tetapi kurus dan badannya kecil.

Stunting adalah kondisi anak balita yang pertumbuhan tinggi badannya di bawah rata-rata. Keadaan ini disebabkan tidak mencukupinya asupan gizi, dan terjadi dalam waktu yang lama. Akibatnya tidak hanya menghambat pertumbuhan tubuh, tapi juga memperlambat perkembangan otak.

Dalam jangka panjang, anak yang mengalami keadaan seperti ini berpotensi mengalami keterbelakangan mental, rendahnya kecerdasan sehingga membuat kemampuan belajar menjadi sangat terbatas. Belum lagi mereka jadi rentan terhadap ancaman serangan penyakit kronis. Antara lain, hipertensi, diabetes, maupun kegemukan yang tidak proporsional.

Secara statistik angka stunting Indonesia menurun, dari 29 persen pada 2015 menjadi 27,6 persen tahun 2016. Persentasenya memang cenderung terus menurun. Tahun 2013, anak-anak yang menjadi penderitanya mencapai 37,2 persen. Tetapi, kendati ada perbaikan, jumlah itu masih di atas batas normal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 20 persen.

Kondisi Indonesia jauh lebih buruk dari negara tetangga.  Vietnam hanya 23 persen, Malaysia 17 persen, Filipina 20 persen dan Thailand 16 persen. Itu sebabnya WHO sudah lama memberi peringatan keras akan hal ini. Perlu terobosan agar masalah ini bisa diatasi secara bertahap.

Kita berharap Kemeterian Kesehatan bekerja sama dengan pemerintah daerah bekerja keras. Bila perlu libatkan TNI dan Polri untuk menjangkau kawasan terpencil dan daerah terluar. Semoga anak Indonesia bisa menatap masa depan dengan optimistis. Sebab dalam tubuh yang sehat, ada jiwa yang sehat. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gelapkan HP Temannya, Pria Ditangkap Kapos Pasar Horas
Polres Asahan Ringkus Jurtul Togel
Diduga Edarkan Sabu, 2 IRT Ditangkap di Rumah Kontrakan
Aniaya Kekasih WN Polandia, Pria Australia Ditangkap
Simpan Sabu, Buruh Harian Lepas Ditangkap Polres Tanjungbalai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU