Home  / 
Padi Hibrida Jadi Solusi Swasembada Pangan
Rabu, 14 Maret 2018 | 12:18:56
Beras merupakan kebutuhan pangan utama penduduk di Indonesia yang terus bertambah. Laju pertumbuhan  penduduk sekitar 1,49 persen per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2017 yang mencapai 262 juta jiwa, diperkirakan kebutuhan beras nasional 32,7 juta ton.

Laju pertambahan penduduk tersebut harus diimbangi dengan laju produksi beras . Saat kebutuhan tak sesuai dengan produksi, maka pemerintah terpaksa melakukan impor. Namun itu sifatnya sementara, solusi permanen dan jangka panjang adalah memacu produksi beras dalam negeri. Kalaupun produksi berlebih, bisa diekspor ke negara lain.

Salah satu program memacu produksi beras, pemerintah menggunakan program padi hibrida yang telah berhasil dilaksanakan di sejumlah negara lain. Varietas hibrida memberi harapan baru yang sangat menarik, karena mampu berproduksi lebih tinggi. Kita telah mengenal lama kelapa hibrida, lalu jagung hibrida yang sudah sangat marak digunakan petani jagung, dan terakhir ramai padi hibrida. Beberapa pihak begitu bersemangat untuk mengaplikasikan benih hibrida, yang diyakini sebagai solusi swasembada pangan Indonesia.

Padi hibrida adalah produk persilangan antara dua tetua padi yang berbeda secara genetik. Apabila tetua-tetua diseleksi secara tepat maka hibrida turunannya akan memiliki daya hasil yang lebih tinggi dari kedua tetua tersebut. Dengan menggunakan padi hibrida, hasil panen akan lebih tinggi daripada hasil padi unggul biasa.

Selain itu, padi jenis ini juga lebih kompetitif terhadap hama. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kelembaban dan suhu tinggi sehingga rentan terhadap hama biotik. Nah, itu sebabnya padi hibrida sangat tepat dikembangkan di negeri ini, tanpa mengabaikan penanaman jenis padi lain.

Sayangnya, harga benih hibrida di Indonesia masih mahal dan petani harus membeli benih baru setiap tanam. Sebab benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya. Di sini peran pemerintah untuk membantu penyediaan bibit padi hibrida. Paling tidak memberi subsidi sehingga harga terjangkau petani.

Jenis padi hibrida sendiri sudah ada 19 jenis, yaitu IPA1-IPA19 dan semuanya sudah berlisensi.  Untuk penyebaran secara masif sudah ada delapan lisensor, baik BUMN maupun BUMS. Tahun 2018 ini diperkirakan akan menambah lagi 2-3 lisensor. Sebanyak  50 perguruan tinggi dilibatkan untuk penelitian varietas unggul.
 
Publik harus diedukasi mengenai prospek investasi teknologi padi hibrida, mengingat visi pemerintah untuk meningkatkan produksi padi dalam negeri. Selain karena mahal dan sulit didapat, banyak yang masih bingung, sebab ada informasi padi hibrida bisa merusak lahan. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) mesti dibekali dengan pengetahuan yang memadai untuk menyosialisasikan ke petani.

Pemerintah Indonesia telah menargetkan produktivitas padi hingga 84 juta ton pada 2018. Padi hibrida menjadi solusi untuk mencapainya. Peneliti lokal sebaiknya didorong menghasilkan bibit yang memiliki produktivitas tinggi, tahan hama, dan cocok dengan kondisi alam Indonesia. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU