Home  / 
Pendidikan Jarak Jauh Bagi Daerah Terpencil
Selasa, 13 Maret 2018 | 12:59:08
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengakui jumlah perguruan tinggi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Papua dan Papua Barat masih terbatas. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) diyakini merupakan salah satu solusi tepat untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di daerah. Hanya persoalan infrastruktur teknologi informasi dan SDM, baik kampus maupun mahasiswa, bakal menjadi kendala.

Saat ini Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi Indonesia baru pada angka 31,5 persen, dengan skema peningkatan akses secara konvensional, rata-rata peningkatan APK hanya 0,5 persen per tahun. Diharapkan dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), APK akan meningkat lebih signifikan. Kemenristekdikti menargetkan pada tahun 2022-2023 APK pendidikan tinggi bisa di angka 40 persen.

Hanya saja proses pembelajaran dengan sistem PJJ tidak boleh melupakan kualitas. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta mesti menjalankan program PJJ sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti. Kopertis ditugaskan melakukan pembinaan terhadap perguruan tinggi swasta yang ingin mengembangkan PJJ di kampus mereka.

Pembelajaran Jarak Jauh dengan cara daring sangat membutuhkan dukungan infrastruktur jaringan internet yang baik. Menristekdikti telah meminta dukungan dari Telkom untuk meningkatkan jaringan internet di daerah. Ke depan diharapkan program pembelajaran daring tersebut dapat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu PT dalam menghadapi persaingan secara global.

PJJ menjadi keniscayaan sebab pengguna Internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal itu seiring dengan kemajuan teknologi dan tren generasi milenial yang tak bisa lepas dari internet. Apalagi menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet, dari total populasi sebanyak 262 juta orang.

Artinya ada 54,86 persen orang Indonesia yang telah terhubung ke internet. Dari data tersebut, diketahui orang Indonesia yang paling banyak menggunakan internet didominasi generasi millenial, yang rentang usianya mulai 19 tahun sampai 34 tahun. Ada 49,52 persen pengguna internet Indonesia yang berasal dari generasi millenial.

Setelahnya, ada kelompok usia 35-54 persen dengan 29,55 persen, kelompok 13-18 tahun dengan 16,68 persen dan lebih dari 54 tahun dengan 4,24 persen.
APJII memrediksi  di tahun 2018 bakal ada peningkatan yang sangat besar 65-70 persen. Ini menunggu Palapa Ring 2020 menjangkau daerah terpencil.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memang sedang melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok. Saat pembangunan infrastrukturnya selesai, maka masyarakat di seluruh Indonesia akan terhubung secara internet hanya melalui telepon pintar (smartphone). Diperkirakan akhir 2018 pembangunan infrastruktur selesai dan bakal menjadi tahun melek internet untuk Indonesia.

Berarti PJJ bisa segera diwujudkan untuk menjangkau daerah terpencil. Perlu persiapan yang matang, baik dari sisi regulasi dan infrastruktur. Tugas besar adalah melatih calon mahasiswa di daerah terpencil agar mahir menggunakan internet. Kita berharap semakin banyak orang menikmati pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerahnya. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
2 Penjahat Jalanan Babak Belur Dimassa di Medan Labuhan
Polisi Tangkap 3 Tersangka Jaringan Narkoba
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU