Home  / 
Keamanan Siber Indonesia Masih Mengkhawatirkan
Minggu, 11 Maret 2018 | 12:18:09
Pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal itu seiring dengan kemajuan teknologi dan tren generasi milenial yang tak bisa lepas dari internet. Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet, dari total populasi sebanyak 262 juta orang.

Artinya ada 54,86 persen orang Indonesia yang telah terhubung ke internet. Dari data tersebut, diketahui orang Indonesia yang paling banyak menggunakan internet didominasi oleh generasi milenial, yang rentang usianya mulai 19 tahun sampai 34 tahun. Ada 49,52 persen pengguna internet Indonesia yang berasal dari generasi milenial. Setelahnya, ada kelompok usia 35-54 persen dengan 29,55 persen, kelompok 13-18 tahun dengan 16,68 persen dan lebih dari 54 tahun dengan 4,24 persen.

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi saat ini sedang gencar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok. Ketika seluruh pembangunan infrastrukturnya selesai, maka masyarakat di seluruh Indonesia akan terhubung hanya melalui telepon pintar (smartphone). Diperkirakan di 2018 pembangunan infrastruktur selesai dan menjadi tahun melek internet untuk Indonesia.

Sayangnya, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut indeks keamanan siber Indonesia sangat rendah. Hanya berada di level 69 dari 161 negara. 
Indonesia dicap sumber serangan program jahat (malware) karena lemahnya sistem keamanan tersebut.

Berbeda dengan Singapura yang berada di ranking pertama sebagai negara dengan indeks keamanan siber terbaik. Kondisi ini mengkhawatirkan, bukan hanya bagi pemerintah dan perusahaan, tetapi konsumen.

Sebanyak 205.502.159 serangan siber terjadi di Indonesia selama Januari-November 2017. Berdasarkan penelitian negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), negeri kita ini dianggap sangat rentan terhadap serangan server melalui malware, lantaran tidak mengalokasikan dana cukup besar untuk keamanan sibernya.

Ngasiman Djoyonegoro, penulis buku 'Intelijen di Era Digital: Prospek dan Tantangan Membangun Ketahanan Nasional' di Jakarta menyebutkan, serangan itu antara lain berupa hoax, peretasan terhadap KPU, website pemerintah dan BUMN, hingga serangan ransomware. Serangan-serangan siber tidak selalu dilakukan sebuah negara, tapi dilakukan oknum-oknum non-negara yang menyalahgunakan teknologi demi keuntungan finansial pribadi. Serangan bukan hanya untuk satu perusahaan saja, tetapi mengincar industri yang sudah menggunakan teknologi digital.

Umumnya, ada tiga jenis serangan siber yang menyasar pelaku industri. Pertama, serangan memakai bot yang bertujuan mencuri kredensial agar mendapatkan akses ke dalam sistem pribadi seseorang. Kedua adalah serangan DDoS yang dapat menembus dan melumpuhkan sistem situs, dan yang terakhir adalah serangan aplikasi web (web application) yang kerap mencari situs-situs internet yang pengamanannya lemah untuk mencuri data atau mengotak-atik sistem.

Saat ini, sejumlah negara di dunia serius membangun dan memerkuat sistem keamanan siber. Salah satu indikatornya, meningkatkan anggaran pemerintah dan perusahaan di masing-masing negara untuk keamanan siber atau sistem mereka. Jika dibanding negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) atau Singapura, Indonesia hanya menyisihkan 0,03 persen dari PDB di 2017. Sedangkan di AS, Inggris, Jerman, dan Singapura mengalokasikan rata-rata sekitar 0,16 persen dari PDB untuk keamanan siber mereka.

Kita berharap anggaran pemerintah dan perusahaan bisa ditingkatkan untuk menjamin keamanan siber mereka. Sebab digitalisasi tak terhindarkan lagi, akan semakin meluas orang yang terkoneksi ke internet. Rasa aman warga yang menggunakan teknologi digital merupakan tanggung jawab yang harus dipikul penyedia layanan. Pemerintah harus membantu, terutama untuk akses publik. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ratusan Guru Honorer Unjuk Rasa di Kantor Bupati Batubara Tuntut Diangkat Jadi PNS
LSM KLiK : DPRD Tebingtinggi Diminta Panggil Pihak Terkait
Aliansi Mahasiswa Aksi Damai di Polres Asahan Tolak Deklarasi Tagar 2019 Ganti Presiden
10 Tahun Irigasi Gunung Karo Rusak, 600 Ha Persawahan Kekeringan
Januari-September 2018, Penderita HIV di Karo Bertambah 71 Orang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU