Home  / 
Hilangnya Rasa Memiliki
Selasa, 20 Februari 2018 | 14:06:07
Jagad media daring dan sosial ramai dengan apa yang terjadi saat final Piala Presiden di Senayan. Mayoritas fokus membahas video yang menunjukkan Gubernur DKI Jakarta dihalangi saat akan ikut dalam seremonial penyerahan hadiah. Istana pun sudah memberi klarifikasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Publik luput membahas hal yang substansial tentang perilaku anarkis pendukung sepak bola. Memang ada media massa yang memberitakan fasilitas Senayan dirusak para supporter yang euforia dan kecewa. Sangat sedikit netizen yang membahas dan membuatnya menjadi viral.

Padahal  itu merupakan cerminan ada sesuatu yang salah dalam perilaku sosial bangsa ini dalam merespons sesuatu. Ada amarah yang terpendam, yang dengan mudah diletupkan saat ada momen tertentu. Mereka tak peduli lagi atas hak orang lain yang bisa terganggu.

Bahkan rasa kepemilikan atas fasilitas publik ikut lenyap. Tanpa rasa takut dan bersalah melampiaskan emosinya terhadap milik masyarakat umum. Ada paradoks, satu sisi menuntut pemerintah memerbaiki fasilitas publik dan di saat yang lain justru menjadi perusaknya.

Fenomena ini bukan hanya ada di dunia penggemar sepak bola saja. Perilaku serupa sering dilakukan pengunjukrasa. Taman-taman kota yang dirawat sepenuh hati, dalam sekejab luluh lantak dipijak-pijak. Mereka tak peduli, padahal itu juga miliknya, yang dibangun dan dipelihara dengan uang pajaknya.
Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah? Haruskah kapok membangun dan merawat fasilitas publik? Ataukah mesti menempatkan petugas mengawalnya siang dan malam? Energi bangsa ini bisa terkuras hanya mengurusi hal itu.

Ahli sosial seharusnya diajak mencari obat atas masalah sosial ini. Bila perlu fasilitasi penelitian. Jangan-jangan bangsa ini sedang sakit secara sosial. Nilai luhur kesantunan yang selalu dibanggakan diwarisi dari leluhur ternyata telah tergerus.

Solidaritas bangsa ini perlu dibangun kembali. Rasa kepemilikan atas fasilitas publik mesti ditumbuhkan. Bangsa ini memerlukan terapi sosial. Jangan biarkan orang-orang akhirnya menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang biasa.

Kita berharap ke depan, peristiwa memalukan di Senayan tidak terulang lagi. Fasilitas umum adalah kepunyaan bersama, yang harus dijaga seperti milik sendiri. Jika tak menghargai barang milik sendiri, siapa lagi yang akan respek terhadap kita. Ayo hargai, jaga dan rawat dengan sepenuh hati.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU