Home  / 
Melek Politik Tanpa Berpolitik!
Minggu, 11 Februari 2018 | 12:32:06
Agama sebenarnya adalah urusan hubungan manusia dengan Tuhan. Bukan hanya panduan bagaimana cara memasuki sorga, tetapi menata hubungan sesama. Jadi ada fungsi ganda, secara vertikal berhubungan dengan Tuhan dan secara horizontal terkait dengan manusia dan lingkungannya.

Ada banyak pihak yang terlibat dalam urusan agama. Pertama, umat atau jemaat, yang menjadi anggota dan pihak yang menerima pelayanan atau tuntunan.
Kedua, para pengurus/pemuka, yang biasanya, makin banyak anggotanya, maka makin kompleks struktur dan orangnya.

Agama dalam aktivitasnya memiliki yang beragam, dan muncul dalam bentuk organisasi. Dari enam agama yang diakui di Indonesia, bukan berarti organisasi yang ada hanya enam. Satu agama, bisa puluhan, bahkan ratusan organisasi.

Jangankan beda organisasi saja, yang sama saja belum tentu sama penghayatannya atas satu hal yang bersifat rohani. Apalagi untuk masalah duniawi, seperti politik. Seperti semut mengerumuni gula, lembaga agama selalu menjadi sasaran para politisi.

Mengapa lembaga agama menjadi sasaran? Sebab agama sifatnya massal, ada banyak umat yang berhimpun di sana. Biasanya umat mendengar apa kata pemimpin agama, walau tak sama tingkatan pengaruhnya. Semakin kharismatis pemimpin agama, semakin besar dampak sikapnya ke umat.

Sayangnya politisi yang memanfaatkan dan pemimpin agama yang tergoda, lupa bahwa umatnya heterogen. Mereka umumnya berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk sikap terhadap politik. Akibatnya, politisasi agama justru berpotensi memecah-belah dan merongrong lembaga yang bersangkutan.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, lembaga agama memang harus melek politik. Tak boleh buta dan menutup diri terhadap dinamika yang ada. Umat harus dicerdaskan tentang agar tak dibodoh-bodohi politisi, yang datang lima tahun sekali, menjelang Pilkada atau Pemilu.

Jika melibatkan diri dalam politik sangatlah berbahaya. Sebab begitu mendukung satu pihak, maka akan berseberangan dengan yang lain. Padahal agama
seharusnya menebar perdamaian, bukan permusuhan. Kondisi makin parah, saat yang didukung tokoh agama ternyata kalah, maka deritanya bisa bertahun-tahun.

Kita berharap para pimpinan agama menahan diri untuk berpolitik praktis. Jika memang berminat, sebaiknya nonaktif sebagai pengurus. Umat mesti diedukasi agar melek politik, tanpa menjadikan lembaga agama sebagai alat. Lebih membebaskan umat memilih sesuai hati nurani masing-masing. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pansus: Insyaallah RUU Antiterorisme Selesai Rabu 23 Mei
Diserang Warga, Jemaah Ahmadiyah Lari ke Hutan
Indonesia Raya Berkumandang di Kebaktian GKI Diponegoro
Rektor Runtung Sitepu: Kasus Dosen Himma Pukulan Bagi USU
Survei Indo Barometer: Soeharto Presiden Paling Berhasil
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU