Home  / 
Jokowi Ingin Media Mainstream Lawan Hoaks
Jumat, 9 Februari 2018 | 12:38:46
Perkembangan zaman membawa perubahan besar bagi peradaban manusia, antara lain dalam bidang informasi. Saluran informasi saat ini melimpah, tak lagi dimonopoli pemerintah. Satu peristiwa, informasi dan tafsirnya bisa beragam. Apalagi dengan makin mudah dan murahnya internet, membuat siapa saja mengakses informasi yang tersedia di sana.

Sayangnya kemudahan, selain membawa dampak positif, ternyata informasi sampah (hoaks) juga banjir. Awalnya hoaks hanya ulah perorangan karena motif iseng atau nakal. Belakangan setelah kasus Saracen terungkap, ternyata ada kejahatan terorganisir yang bekerja atas pesanan, untuk memproduksi hoaks. Motivasi mereka bisa politis, dan ekonomi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.  Situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Tipikal pengguna media sosial (medsos) di Indonesia adalah konsumen, dan bukan produsen. Produsen di jejaring sosial adalah orang-orang yang telah memproduksi sesuatu, baik tulisan di Blog, foto di Instagram, maupun mengupload video di Youtube. Konsumen adalah orang yang  tidak memiliki Blog atau tidak pernah mengupload video di Youtube namun sering update status di Twitter dan Facebook.

Fakta ini menunjukkan betapa banyaknya orang Indonesia mendapatkan informasi dari pihak lain, yang bisa saja tanpa disadari adalah hoaks. Medsos menjadi pilihan produsen hoaks karena mudah dan murah. Walau belakangan  Facebook mulai rajin menyisir informasi hoaks dan memblokir akunnya. Namun, tetap saja hoaks masih bertebaran di linimasa pengguna Medsos.

Jika tak diantisipasi, dan diminimalkan, hoaks sangat berbahaya. Bukan saja bisa membunuh karakter seseorang karena fitnah, namun bisa memprovokasi yang menyulut terjadinya tindakan anarkisme sehingga terjadi kerusuhan. Hal itu sudah beberapa kali terjadi, hanya karena kesigapan aparat keamanan, kerusuhan SARA bisa dilokalisir dan tak meluas.

Hari ini, 9 Februari 2018, merupakan Hari Pers Nasional. Saat yang tepat untuk mengingatkan Pers Indonesia untuk serius berbenah diri menghadapi ancaman hoaks. Pers harus menjadi benteng bagi mayoritas rakyat, yang masih sulit membedakan mana berita yang benar, dan mana yang hoaks. Untuk itu, pers harus yang pertama melakukan disiplin verifikasi atas semua informasi, data dan fakta yang masuk ke ruang redaksi, sebelum diterbitkan atau disiarkan menjadi berita.

Wartawan jangan malas melakukan konfirmasi, cek, ricek dan triple cek atas setiap informasi yang didapatnya. Presiden Jokowi berharap besar pada media mainstream untuk meluruskan berita-berita hoaks, agar masyarakat tak terprovokasi oleh informasi yang diragukan kebenarannya. Senada, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Hendry Chairudin Bangun mengatakan media mainstream harus membentengi generasi milenial agar terjauh dari hoaks atau berita bohong yang beredar pada era digital saat ini.

Dewan Pers secara bertahap sudah mendorong media mainstream meningkatkan kualitas, dengan uji kompetensi wartawan bagi pekerja pers, dan verifikasi buat perusaaan pers. Program ini harus diteruskan, agar makin banyak wartawan yang kompeten dan perusahaan pers yang terverifikasi. Dengan demikian, ada garansi agar berita media mainstream benar-benar berita terverifikasi, dan bukan hoaks. Selamat Hari Pers Nasional ! (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Untuk Keenam Kalinya, Pemkab Humbahas Kembali Terima Opini WTP
Forum Naposobulung HKBP Dukung Badan Otorita Danau Toba
Masalah Simdesa Nisbar, Jaksa Periksa 11 Kades dan 1 ASN PMD
Sumut Surplus 160 MW, Tapi Pemadaman Listrik Masih Terjadi
Tim Safari Ramadan MUI Sumut Berkunjung ke Simalungun
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU