Home  / 
Peran Media Ciptakan Rasa Aman
Sabtu, 20 Januari 2018 | 13:42:38
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Dadang Hartanto SIK SH MSi beserta jajaran saat berkunjung ke Redaksi Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), Kamis (18/1) sore, secara khusus meminta dukungan dalam menjaga Kamtibmas di Kota Medan. Bagi yang tak memahami, permintaan ini bisa dianggap aneh. Bagaimana media massa seperti SIB dapat menciptakan rasa aman dan menjaga situasi kondusif?

Permintaan tersebut menunjukkan dalamnya wawasan dan pemahaman Kapolrestabes tentang peran media massa. Keamanan bukan hanya tugas polisi. Ada banyak pihak yang terkait di dalamnya yang harus saling mendukung satu sama lain.

Media massa meski tidak memiliki senjata api seperti polisi, memiliki peran strategis dalam menciptakan rasa aman. Lalu apakah karena penjahat takut kepada wartawan? Tentu tidak, namanya penjahat tetaplah akan berbuat jahat, sepanjang ada niat didukung oleh kesempatan melakukannya.

Harus diakui, media massa sangat bisa memengaruhi masyarakat. Kalaupun tidak secara langsung mengubah perilaku, paling tidak apa yang diberitakan akan menjadi bahan pikiran, yang cepat atau lambat, akan menjadi tindakan.

Jadi media massa bisa mengedukasi warga agar tetap waspada terhadap kejahatan. Jika kewaspadaan ada, maka kesempatan berbuat kriminal akan makin sedikit. Media juga bisa memberikan panduan bagi warga agar membuat kunci ganda di kendaraannya, tak memakai perhiasan yang mencolok dan tak sembrono memamerkan uang di depan umum.

Media massa bahkan bisa menggerakkan partisipasi masyarakat dalam menciptakan keamanan. Jumlah personel polisi sangat terbatas. Tetapi semua orang bisa menjadi 'polisi' bagi dirinya dan lingkungannya. Keamanan terbaik adalah Siskamling. Warga sendiri yang menjaga keamanan wilayahnya. Hal ini pun berlaku luas di manca negara, seperti di Amerika, dikenal dengan neighborhood watch (pengawasan lingkungan). Bahkan secara swadaya warga lingkungan mampu melengkapi dengan alat radio telekomunikasi dan kendaraan serta seragam.

Sebaliknya, media massa bisa menebar teror bagi masyarakat. Pemberitaan yang tak bijak, bisa menjadikan penjahat sebagai pahlawan. Malah polisi dianggap tak becus dan musuh rakyat. Malah ada berita yang provokatif dan mengadu domba kelompok masyarakat, dengan isu SARA.

Kita percaya media massa di Indonesia sebagai Pers Pancasila, diminta atau tidak diminta, sudah menjadi kewajibannya membantu polisi menciptakan rasa aman. Apalagi polisi sebagai penanggung jawab keamanan sudah menunjukkan dedikasi dan kinerjanya menjaga Kamtibmas. Patut mereka didukung dan prestasinya diapresiasi.

Meski begitu, polisi mesti terbuka juga dengan saran, masukan, dan kritikan pers. Jangan alergi jika diberitakan tentang kekurangan. Malah itu mesti dijadikan sebagai suplemen dalam meningkatkan kinerja.

Sebagaimana diamanatkan UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers, Pasal 6; pers nasional dalam melaksanakan peranannya (butir 6 d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (6 e) memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Maka tidak berlebihan bila polisi dan media adalah mitra yang kurang lebih memiliki fungsi linear, melindungi dan melayani masyarakat, yang saling membutuhkan satu sama lainnya.  (**)




Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU