Home  / 
Keramah-tamahan di Wisata Kuliner
Minggu, 7 Januari 2018 | 11:47:19
Semua tahu secara teori, keramah-tamahan (hospitality) diyakini merupakan kata kunci dalam bisnis pariwisata. Jika tidak, maka orang hanya sekali saja datang (bahasa Batak, parsahalian) dan takkan mau datang lagi dalam kunjungan berikut.

Padahal mungkin, kuliner tersebut dari sisi rasa sangat enak, bentuknya menarik dan penyajiannya bagus. Namun hanya karena kurangnya keramah-tamahan dalam pelayanan pengunjung menjadi kecewa. Mereka bahkan ada menyebarkan kampanye negatif ke mana-mana.

Indonesia memiliki potensi wisata yang luarbiasa, termasuk kuliner. Nenak moyang kita telah mewariskan kekayaan kuliner yang tak kalah dengan negara lain. Tak heran, banyak orang menyukainya dan ingin mengulanginya di waktu yang lain.

Lihatlah Kota Medan yang bisnis makanan minuman yang dipadukan dengan hiburan makin berkembang. Setiap hari ada saja rumah makan, restoran, cafe dan tempat 'nongkrong' yang bertambah. Salah satunya adalah warung kopi dalam berbagai bentuk, seperti terlihat di kawasan ringroad.

Pemilik bisnis mungkin memersiapkan manajemen sebaiknya. Sistem keuangannya juga rapi. Begitu juga dengan penyusunan menu, dengan barista dan koki yang andal. Tapi tanpa adanya keramah-tamahan, bisnis kuliner takkan langgeng.

Sebenarnya, bangsa ini sudah mewarisi nilai budaya luhur seperti keramah-tamahan. Tampak jelas bagaimana tata krama berkenalan dan memerlakukan tamu. Bahkan orang asing pun dijamu, meski tak pernah bertemu sebelumnya.

Keramah-tamahan itu perlu direvitalisasi kembali. Perlu pelatihan agar menjadi sebuah budaya. Tamu yang diperlakukan dengan sopan, ramah dan penuh perhatian akan menciptakan kesan yang kuat. Tanpa disuruh, mereka akan ikut mempromosikan tempat tersebut ke orang lain.

Pengelola wisata kuliner harus menyadari pentingnya keramahtamahan. Sama pentingnya dengan produk, promosi, penempatan dan harga.  Rekrutmen karyawan jangan hanya soal ketrampilan teknis saja, tetapi bagaimana hospitality-nya.

Indonesia telah bertekad pada 2019, sektor wisata menjadi penyumbang nomor satu devisa negara. Kuliner menjadi salah satu subsektor yang sangat potensial. Jangan hanya karena mengabaikan keramah-tamahan, peluang tersebut menjadi hilang. Mulai dari 3 S: senyum, sapa dan salam.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bamsoet Pastikan Kasus Penembakan di DPR Bukan Teror, Tapi Peluru Nyasar
Panitia Nasional Tinjau Venue Perayaan Natal 2018 di Medan
Korupsi Alat Kontrasepsi Rp 72 M, Pejabat BKKBN Dibui 2 Tahun
Gubsu Serahkan Tali Asih Rp 2,5 M kepada 10 Atlet Berprestasi di Asian Para Games 2018
Jokowi Beri Beasiswa kepada 5.144 Mahasiswa Korban Gempa Lombok
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU