Home  / 
Proses Politik Penentuan Balon Kepala Daerah
Jumat, 5 Januari 2018 | 11:44:25
Komisi Pemilihan Umum akan membuka pendaftaran kepala daerah pada Senin hingga Rabu, 8-10 Januari 2018. Tak ada perpanjangan waktu, jadi hari-hari ke depan bakal genting, baik bagi partai politik maupun bakal calon. Belajar dari pengalaman, perubahan bakal sangat dinamis dan kadang tak terduga.

Di Sumut sendiri ada sembilan daerah yang Pilkada pada 2018 ini. Delapan di antaranya kabupaten kota dan satu lagi adalah provinsi. Mereka adalah Deliserdang, Langkat, Batubara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Utara, Dairi dan Kota Padang Sidimpuan, plus pemilihan gubernur Sumut.

Tegang, panas dan tak terduga, biasa terjadi menjelang proses pencalonan. Semua pihak diharapkan bisa menjaga suasana tetap kondusif. Tak perlu saling menjatuhkan melalui isu murahan di media sosial. Bagaimanapun penentuan siapa bakal calon adalah hak prerogatif partai dan gabungan partai.

Jika satu partai tak memenuhi kuota mencalonkan sendiri, maka harus membangun koalisi. Nah, ini yang sering sangat dinamis. Sebab namanya politik terkait dengan kepentingan. Bukan sekadar siapa menjadi orang nomor satu atau orang nomor dua. Dalam koalisi diperlukan kepiawaian dalam mengakomodasi berbagai kepentingan yang berbeda.

Tak aneh dalam perjalanan waktu, satu partai bisa mengubah jagoannya. Seperti adagium selagi bola masih bulat, maka segala sesuatu bisa terjadi. Injury time masih bisa terjadi perubahan, dari tidak mungkin menjadi kenyataan. Jadi para calon jangan terlalu cepat putus asa dan sebaliknya jangan terus euforia.

Perhatian publik sekarang tertuju pada proses politik di masing-masing parpol untuk menentukan siapa jagoannya. Apa yang terjadi di proses ini, akan memengaruhi persepsi. Jika ternyata partai mengabaikan etika, transaksional dan tak konsisten, akan menjadi penilaian tersendiri bagi masyarakat.

Berbagai isu yang berseliweran terkait calon. Antara lain, pertama, ada yang mempersoalkan putra daerah dan bukan putra daerah. Kedua, apakah kader partai bersangkutan, atau justru orang luar. Ketiga, apakah pasangannya satu warna atau pelangi. Keempat, apakah orang yang dikenal dan mengenal daerahnya atau asing sama sekali.

Apapun putusan partai, mari hargai dan beri kesempatan bertarung, sepanjang memenuhi syarat. Terlalu dini menilai seseorang bakal menang atau kalah. Sebab begitu menjadi calon, pengambil keputusan beralih ke tangan pemilik. Rakyatlah yang menentukan siapa kepala daerahnya lima tahun mendatang.

Kita berharap semua pihak dewasa dalam berpolitik. Menjadi kepala daerah memang sarana yang sangat bagus untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa. Namun, tak menjadi calon pun bukan akhir segalanya. Selalu ada cara dan kesempatan bagi yang memang tulus ingin berbuat bagi negeri ini. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Mahasiswa Fisipol UDA Duta Sumut Lomba Desain Poster Tingkat Nasional
Polrestabes Medan Bekuk Bandar Narkoba Antar Provinsi
13 Tahanan Unit Narkoba Polres Kepulauan Seribu Kabur
Miliki Sabu, Seorang Warga Sei Kepayang Ditangkap
Polres Simalungun Ungkap 10 Tersangka Jaringan Narkoba
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU