Home  / 
Harapan Baru Buat Indonesia di 2018
Kamis, 4 Januari 2018 | 11:08:25
Sebanyak 60 persen penduduk Indonesia adalah anak-anak muda. Ini merupakan bonus demografi yang patut disyukuri, walau di sisi lain bisa berpotensi menjadi masalah, apabila tidak ada antisipasi dari sekarang.

Mengapa jadi masalah? Sebab diperlukan lowongan kerja yang besar bagi mereka. Kalaupun tersedia, belum tentu anak muda lokal memiliki tempat. Apabila tidak mempunyai kompetensi yang memadai, pasti akan tesingkir, digantikan pekerja terampil dari negara asing.

Itu sebabnya, kita memahami keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada rapat pertama kabinet agar pada tahun anggaran 2018 pemerintah memberikan peningkatan perhatian terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM).

Anak muda tersebut harus digunakan sebagai kekuatan dan peluang bagi Indonesia. Salah satunya dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang sudah mulai dijalankan pada 2017.

Menurut Jokowi, piramida kualifikasi tenaga kerja mesti ditingkatkan agar menjadi tenaga kerja yang terlatih dan terampil, agar terserap semuanya ke dalam industri-industri kita. Untuk itu, keahlian keterampilan yang diajarkan di sekolah-sekolah vokasi harus benar-benar tersambung dengan dunia kerja dan dengan kebutuhan industri. Fakta menunjukkan calon tenaga kerja yang tersedia saat ini mayoritas masih berpendidikan SD dan SMP harus ditingkatkan kompetensinya melalui program pelatihan kerja, pemagangan, serta program sertifikasi.

Pendidikan memang masih menjadi masalah. Data Indeks Pendidikan UNESCO 2016 menunjukkan bahwa saat ini Indonesia berada di posisi 108 dunia dengan skor 0,603. Secara umum, data itu menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Ternyata hanya ada sebanyak 44 persen penduduk Indonesia yang menuntaskan pendidikan menengah. Lalu 11 persen murid gagal menuntaskan pendidikan.

Artinya, harus ada percepatan untuk mengejar ketertinggalan dalam dunia pendidikan ini. Tahun 2018 ini, peningkatan kualitas SDM mesti menjadi prioritas, selain infrastruktur yang gencar dilakukan selama tiga tahun terakhir. Semua Kementerian terkait mesti berada pada tahapan eksekusi program, bukan hanya indah di atas kertas.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengurus Dikdasmen (pendidikan dasar menengah) diharapkan lebih memerhatikan kualitas lulusan SMK.
Kurikulum sebaiknya diperbaiki agar link and match dengan industri. Guru jangan hanya lulusan keguruan, para praktisi harus didorong terlibat dalam pelatihan dan penggemblengan siswa.

Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Perindustrian sebaiknya memperbanyak BLK (Balai Latihan Kerja) yang program memang dibutuhkan dunia usaha. Jangan ada lagi program yang justru menambah jumlah pengangguran. Harus ada keberanian menutup jurusan yang tak laku dan membuka prodi yang layak jual, seperti yang terkait dengan digitalisasi.

Kita optimistis keinginan Presiden Jokowi bisa mulai diwujudkan di tahun 2018 ini. Hanya ada satu cara, yakni bekerja, bekerja dan bekerja, di 'ladang masing-masing' yang Tuhan izinkan, sesuai pesan Natal Nasional 2017. Mari wujudkan harapan baru untuk Indonesia di tahun baru ini.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU