Home  / 
Wartawan Berperan Rukunkan Umat
Minggu, 10 Desember 2017 | 15:21:20
Isu SARA sangat sensitif bagi bangsa ini. Sebab sejarah memberi fakta, Indonesia sangat beragam suku, agama dan ras. Bangsa ini dipersatukan atas tujuan yang sama, karena senasib dan sepenanggungan, lalu direkat dalam nilai-nilai Pancasila.

Persatuan dan kesatuan dalam kepelbagaian itu telah melintasi perjalanan panjang sejarah negeri ini. Kesadaran sebagai satu bangsa sudah ada, bahkan sebelum kemerdekaan. Para pendiri negara ini membangun konsensus nasional. Agama, etnis dan ras tak boleh memisahkan dan memecah belah.

Malah keragaman mesti dijadikan sebagai kekuatan besar untuk membawa Indonesia ke kejayaannya. Persatuan adalah modal untuk keluar dari ketertinggalan. Apapun masalah, jika dihadapi bersama, tak ada yang mustahil untuk diselesaikan.

Sebaliknya jika tercerai berai, masalah kecil pun bisa membuat hancur bangsa ini. Percuma orangnya banyak, tetapi saling curiga dan saling menjatuhkan. Secara fisik mungkin bersama, tetapi soliditasnya rapuh. Sedikit saja isu, bisa menggoyahkan dan memporakporandakan barisan.

Upaya memecah-belah bangsa ini sudah merupakan cerita lama yang terus diperbaharui. Meski modusnya bisa berbeda, tetapi senjatanya sama, yakni isu SARA. Entah kenapa, masih ada saja yang terpengaruh dan menjadi pelakunya, yang mungkin tak sadar telah diperalat memecah belah bangsa ini. Seperti masalah baliho di Medan beberapa hari lalu, yang sempat menghangat di percakapan publik.

Harus diakui, banyak warga masih belum mandiri dalam bersikap. Mereka masih sangat dipengaruhi siapa yang dianggapnya sebagai panutan. Bisa saja tokoh agama, tokoh adat atau pemuka masyarakat. Jika orang berpengaruh ini tak suka keragaman, maka pengikutnya akan bersikap demikian pula.

Untuk itu perlu ada stimulus yang disengaja untuk memengaruhi pikiran dan sikap bangsa ini. Di sini peran wartawan dan media massa sangat strategis.

Sebab mereka lewat tulisan atau materi siaran diyakini menentukan perilaku orang. Minimal apa yang dipikirkannya, sesuai dengan teori komunikasi.
Untuk itu, wartawan dan media massa mesti berperan merukunkan umat. Sebab untuk memersatukan agama tidaklah mungkin, karena soal keyakinan adalah hak pribadi masing-masing. Rukun tidak harus sama, tetapi lahir dari sikap saling menghormati dan menghargai.

Wartawan dan media massa sesuai UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik memiliki tanggung jawab besar bagi bangsa ini. Jika berpegang pada kaidah jurnalistik tersebut, dipastikan seorang wartawan tidak akan terjerumus menyiarkan berita memecah belah dan memprovokasi. Rohnya adalah jurnalisme perdamaian, bukan jurnalisme konflik. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Di Tengah Spekulasi Berdamai, Artis Terkemuka Dunia Bela Brad Pitt dalam Perebutan Anak dengan Angelina Jolie
Joshua Siahaan dan Reza Azhari Ukir Prestasi dengan Lagu dan Puisi
Sule Lajang Lagi Pasca Digugat Cerai Sebab Orang Ketiga
Senat AS Setujui UU Royalti untuk Lagu yang Diciptakan Sebelum Tahun 1972
Menag Nilai Agama Modal Indonesia Rajut Persatuan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU