Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Pelayanan Kesehatan Bagi Rakyat Tak Boleh Berhenti
Selasa, 5 Desember 2017 | 11:33:54
Media memberitakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengalami defisit besar. Sejak berubah menjadi BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014, sesuai UU Nomor 24/2011, lembaga ini dilaporkan selalu merugi. Pada tahun pertama, defisitnya tercatat Rp3,3 triliun. Tahun 2015, kerugiannya naik menjadi Rp5,7 triliun, dan tahun lalu tercatat Rp9,7 triliun.

Sampai pertengahan 2017 saja, defisit BPJS Kesehatan telah mencapai Rp5,8 triliun, sehingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp9 triliun. Penyebabnya adalah biaya klaim yang jauh lebih besar dari penerimaan iuran. Sepanjang 2016, klaim yang dibayarkan sejumlah Rp57,8 triliun, sementara total premi yang diterima dari 146,7 juta peserta hanya Rp 52,78 triliun.

Dalam semester pertama tahun ini, total jumlah iuran hanya Rp35,6 triliun, sedangkan nilai klaim yang dibayar Rp41,5 triliun. Dari segi bisnis, sudah jelas BPJS Kesehatan merugi. Lalu apakah karena merugi, akan dibubarkan? Tentu tidak, sebab lembaga tersebut mengemban amanah untuk menyelenggarakan pelayanan jaminan sosial dalam bidang kesehatan.

Bisa dipahami karena dari sisi bisnis merugi, muncul isu tentang BPJS Kesehatan tidak lagi menanggung delapan jenis penyakit katastropik, yakni jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hepatitis, talasemia, leukimia, dan hemofilia. Asal muasal hoaks ini, karena pernyataan Direksi BPJS Kesehatan dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi IX DPR RI.  Disebutkan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk delapan penyakit tersebut ternyata mencapai 20 persen dari total pembiayaan rumah sakit atau rerata hampir Rp20 triliun.

Memang terlalu berat jika BPJS Kesehatan yang menanggung semua biaya penyakit katastropik. Berbeda dengan Taiwan, semuanya dibayar dengan menggunakan anggaran negara. Pada zaman PT Askes, pemerintah memberikan dana subsidi bagi penyakit-penyakit katastropik. Pemberian dana tersebut dilakukan sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2013.

Negara harus ikut menanggung beban tersebut. Mekanismenya bisa diatur tersendiri. Bisa saja dilakukan cost sharing, artinya BPJS Kesehatan hanya menanggung sebagian, dan sisanya dibebankan ke negara. Regulasinya mesti segera disiapkan agar ada payung hukum bagi pemerintah untuk membiayai penyakit katastropik.

Apalagi Pasal 34 UUD 1945, telah menegaskan, antara lain, pertama "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". Kedua, "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan". Ketiga, "Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak."

Pemerintah mesti bertanggungjawab atas terwujudnya kesejahteraan rakyat. Setiap upaya meningkatkan kesejahteraan, baik kesehatan, pendidikan dan pembangunan sosial lainnya, adalah tugas utama pemerintah. Jadi, pelaksanaan kewajiban pemerintah negara tidak boleh dipandang dengan perspektif neraca rugi-laba saja.  Berapa pun beban anggaran yang harus dipikul negara dalam pelaksanaan tugas pemerintah yang diamanatkan konstitusi, negara wajib mengalokasikan anggaran untuk itu.

Meski begitu BPJS Kesehatan tak bisa lepas tangan begitu saja. Evaluasi menyeluruh mesti dilakukan untuk mengungkap apa-apa saja yang belum efisien.
Sorotan terhadap masalah gaji direksi jangan dianggap negatif. Sepanjang bisa dipertanggungjawabkan dan logis, sah-sah saja. Namun pelayanan kesehatan bagi rakyat tak boleh berhenti.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tinggal Digubuk Reot, Bunga Ria Nainggolan Terima Bantuan Bahan Bangunan dari Kapolres Dairi
Bupati Samosir Serahkan Alat-alat Kebersihan
Dinas PP dan PA Tapsel Gelar Seminar Etika Perempuan dalam Organisasi
Tim Penilai Kecamatan Terbaik Turun ke Marancar Tapsel
BPJS Ketenagakerjaan Sibolga Keluhkan Pembayaran Iuran Jasa Konstruksi di Tapteng
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU