Home  / 
Jauhkan Rokok dari Anak-anak
Kamis, 23 November 2017 | 10:57:26
Data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN menunjukkan lebih dari 30 persen anak Indonesia merokok sebelum usia 10 tahun. Padahal, semakin muda usia perokok potensi terkena penyakit degeneratif di usia muda pun meningkat. Survei Indonesia Kesehatan Nasional (Sirkesnas) 2016 menunjukkan prevalensi perokok usia anak (di bawah usia 18 tahun) meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 8,8 persen pada 2016.

Dari jumlah 87 juta anak, sekitar 43 juta (49 persen) terpapar asap rokok atau perokok pasif, dan dari 43 juta tersebut terdapat sekitar 11,4 juta (27 persen) ialah anak usia di bawah lima tahun (balita). Rokok dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan mengganggu tumbuh kembang anak apabila sering terpapar oleh asap rokok. Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi hak anak.

Salah satunya ditegaskan tentang pemenuhan hak atas kesehatan. Pemerintah juga menargetkan pencapaian Indonesia layak anak pada 2030 melalui kabupaten/kota layak anak. Sampai 2017 baru 346 kabupaten/kota dari 516 yang sedang menginisiasi dan berkomitmen mendapat predikat tersebut. Salah satu indikator dari 24 indikator yang harus dipenuhi kabupaten/kota layak ialah kawasan tanpa asap rokok.

Banyaknya perokok anak, karena banyak pula 'model perokok' di sekitar mereka. Anak dinilai kerap meniru aktivitas yang dilakukan orangtuanya, termasuk merokok. Anak merupakan peniru terbaik. Model ini bisa orangtua, guru, kakak mereka yang merokok sembarangan, di rumah, sekolah, angkutan umum. Ini membuat merokok seolah-olah adalah hal yang biasa dilakukan orang dewasa, dan memberi kenikmatan.

Selain itu, akses anak-anak untuk mendapatkan rokok di Indonesia "sangat mudah," walau ada larangan menjual rokok bagi anak-anak. Mereka bisa beli rokok di mana saja. Rokok bisa dibeli per batang, harganya cuma Rp 1.000 satu batangnya, bahkan lebih murah dari itu.

Kampanye antirokok mesti dimulai dari anak-anak. Mereka diharapkan dapat mengajak teman-teman atau menolak asap rokok di lingkungan keluarga dan sekolah. Gerakan bersama ini ditujukan untuk pemenuhan hak anak atas kesehatan sebagai salah satu upaya mewujudkan kabupaten/kota layak anak (KLA) menuju Indonesia layak anak 2030.

Paparan asap rokok pada perokok pasif hampir sama bahayanya dengan perokok aktif. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah memberlakukan KTR (kawasan tanpa rokok). KTR bukanlah untuk melarang orang merokok, melainkan jangan dilakukan di depan anak-anak.

Apalagi merokok juga dapat menjadi beban bagi pembiayaan kesehatan. Penyakit degeneratif seperti jantung, paru-paru, dan stroke dapat dipicu kebiasaan merokok. Semakin belia perokok kian meningkat potensi terkena penyakit degeneratif di usia muda.

Jika tak ada upaya secara besar-besaran sekarang untuk mencegah anak-anak terikat dalam kebiasaan merokok, maka masa depan Indonesia bakal terancam. Banyak pakar berpendapat, rokok adalah pintu gerbang bagi masuknya narkoba. Meski hanya asumsi, semua mesti sepakat menjauhkan rokok dari kalangan anak-anak dan generasi muda. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Partai Perindo Target 70 Persen Suara untuk Pasangan Jokowi - Amin di Sumut
Ratusan Warga Porsea Berangkatkan dan Doakan Caleg DPR RI Partai Hanura Edison Manurung
Bupati Karo Launching Musik Campursari Diatonis dan Pentatonis di Berastagi
Penyanyi Cilik Berdarah Indonesia Dapat Golden Ticket American Idol
Nostalgia Artis 3 Generasi Lantunkan Lagu Top-40
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU