Home  / 
Kedamaian untuk Papua
Rabu, 22 November 2017 | 12:07:46
Sungguh memprihatinkan! Warga masih saja ketakutan dan terpaksa dievakuasi ke tampat yang aman, pascapenyanderaan kelompok bersenjata di Papua.
Memang TNI dan Polri telah berhasil membebaskan mereka. Namun hal itu bisa terulang kembali sebab pelakunya masih berkeliaran dan belum tertangkap.

Harus diakui Papua masih tertinggal dari provinsi lainnya di Indonesia. Padahal Bumi Cenderawasih tersebut sangat kaya akan hasil bumi dan tambang. Ada perusahaan multinasional raksasa hadir di sana, seperti Freeport. Warganya sendiri masih sangat tertinggal dalam berbagai bidang, baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi.

Tanpa harus mencari kambing hitam di masa lalu, memang Papua seperti dianaktirikan. Hal itu disadari Pemerintahan Jokowi, yang memberi perhatian khusus untuk daerah paling Timur Indonesia tersebut. Berbagai terobosan telah dilakukan, antara lain pembangunan besar-besaran infrastruktur, seperti Trans Papua dan pembenahan pelabuhan. Lalu kebijakan satu harga BBM di sana, sehingga tak berbeda lagi dengan daerah lain.

Putra-putri Papua dikirim ke bangku kuliah dengan perlakuan khusus. Mereka ada di berbagai perguruan tinggi negeri terbaik. Sebab pendidikan merupakan cara untuk mengubah masa depan. Bukan hanya mencerahkan dan mencerdaskan saja, tetapi membuat mengerti mengenai tujuan hidup, baik secara pribadi, maupun sebagai satu bangsa.

Akses bagi anak Papua dibuka untuk menjadi ASN (aparatur sipil negara). Setiap Kementerian dan Lembaga Negara diberikan alokasi khusus, selain jalur umum dan penyandang disabilitas. Tujuannya jelas, agar lebih banyak anak Papua menjadi ASN, aparat dan pejabat negara, sekarang dan di masa depan.

Bahkan, Presiden Jokowi mencari anak Papua menjadi ajudannya. Sungguh luarbiasa perhatiannya bagi Papua. Namun untuk menyejahterakan daerah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, tak semudah membalikkan tangan. Sebab ada banyak kendala, terutama masalah SDM, juga karena secara geografis sangat luas, begitu juga suku-sukunya sangat beragam.

Belum lagi ada pihak-pihak yang tak ingin ada kedamaian di Papua. Bukan hanya dari dalam negeri , tetapi ada sokongan dari luar negeri. Mereka memanfaatkan ketertinggalan, pelanggaran HAM dan lain-lain sebagai isu untuk memisahkan diri. Akibatnya sekelompok orang melakukan perlawanan bersenjata untuk menyatakan sikapnya.

Sayangnya, kelompok ini malah menyandera saudaranya sendiri. Tampak jelas dari laporan media, warga asli Papua ikut ketakutan dan memilih mengungsi. Jika tujuannya untuk Papua, mengapa mengorbankan 'keluarga' sendiri. Padahal masih banyak cara untuk berjuang, dan mengangkat senjata bukanlah cara yang baik. Kekerasan bukanlah solusi dan takkan menyelesaikan masalah.

Diharapkan kedamaian bisa tercipta di Papua. Pemerintah sebaiknya jangan mengedepankan tindakan represif dan lebih mengutamakan dialog. Tokoh Papua jangan biarkan kekerasan mengoyak-ngoyak kedamaian di sana. Mari ikut mendinginkan suasana dengan memberi penjelasan tentang Papua dan Indonesia yang sedang dibangun.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bamsoet Pastikan Kasus Penembakan di DPR Bukan Teror, Tapi Peluru Nyasar
Panitia Nasional Tinjau Venue Perayaan Natal 2018 di Medan
Korupsi Alat Kontrasepsi Rp 72 M, Pejabat BKKBN Dibui 2 Tahun
Gubsu Serahkan Tali Asih Rp 2,5 M kepada 10 Atlet Berprestasi di Asian Para Games 2018
Jokowi Beri Beasiswa kepada 5.144 Mahasiswa Korban Gempa Lombok
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU