Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Diversifikasi Destinasi Pariwisata
Minggu, 19 November 2017 | 11:12:30
Majalah pariwisata dunia, Dive Magazine, baru saja menobatkan Indonesia sebagai destinasi wisata terbaik di dunia. Gelar prestisius itu sudah diraih selama dua tahun berturut-turut, yakni 2016 dan tahun ini. Bahkan di kategori Diving Spot, Indonesia mendominasi dengan menempatkan tujuh diving spot di jajaran 10 besar. Di antaranya, Wakatobi di posisi ketiga, Misool Raja Ampat di posisi kelima, dan Papua Paradise di posisi keenam.

Terbit sejak 1995, Dive Magazine menjadi salah satu referensi para pelancong dari seluruh dunia. Penghargaan dari majalah tersebut menjadi promosi gratis dan efektif untuk mendongkrak nilai jual Wonderful Indonesia. Penilaian dilakukan warganet (netizens) yang berpartisipasi dengan memberikan suaranya dalam jajak pendapat yang dilakukan Dive Magazine.

Majalah tersebut juga mengulas, dengan modal mencapai 17.000 lebih pulau, Indonesia memiliki ribuan spesies dan habitat dengan repeat visitor tertinggi.
Indonesia memiliki destinasi populer kekinian, yakni Taman Nasional Komodo, hingga hamparan pantai pasir hitam dan Pulau Lembeh di Bitung, Sulawesi Utara. Kemenangan Indonesia sudah bisa diprediksi karena memiliki wisata lengkap mulai dari air, daratan sampai pegunungan.

Kemenangan Indonesia tersebut diyakini mendongkrak citra pariwisata Indonesia di mata dunia. Sebab produk wisata itu adalah destinasi. Dipastikan destinasi bakal mahal kalau brand itu semakin tinggi. Diharapkan para pelancong akan berbondong-bondong datang ke Indonesia.

Meski begitu perlu dilakukan penganekaragaman atau diversifikasi tujuan wisata atau destinasi. Tujuannya untuk menekan kemungkinan tingginya jumlah wisatawan dari dalam negeri untuk liburan ke luar negeri. Apalagi pariwisata merupakan primadona baru yang pada 2018-2019 diproyeksikan pertumbuhan lebih tinggi.

Kreativitas pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata daerahnya menjadi faktor pendukung penting lainnya agar pariwisata Indonesia makin maju.
Harus diakui, banyak daerah hanya menjual destinasi yang sudah terkenal saja. Seperti Danau Toba, hanya dikenal Parapat. Padahal, ada banyak destinasi yang menarik yang terkait Danau Toba, di tujuh Kabupaten Kota yang mengelilinginya.

Persepsi yang sama dengan wisatawan mancanegara, yang hanya mengenal Bali. Padahal dari Sabang hingga Merauke, ada banyak destinasi menarik. Untuk itu, perlu ada manajemen pemasaran terpadu, agar promosinya bisa dilakukan berkelanjutan. Tak hanya mengandalkan pameran saja, tetapi pemasaran digital, sehingga lebih murah, mudah dan sebarannya lebih luas.

Penghargaan dunia terhadap Indonesia karena potensi wisatanya mesti dirawat. Apalagi persaingan dalam memerebutkan turis sangat ketat. Kompetitor bukan dari Eropa atau Amerika, tetapi dari negara jiran terdekat, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Mereka bahkan masih lebih unggul dalam prestasi mendatangkan wisatawan asing.

Destinasi yang indah dan menawan tak cukup memadai untuk menarik wisatawan secara berkelanjutan, sumber daya manusia harus dibenahi agar mengedepankan pelayanan. Hospitality (keramahtamahan) merupakan kunci dalam pariwisata. Turis akan betah apabila mendapat layanan yang prima. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU