Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Terorisme Masih Eksis!
Selasa, 14 November 2017 | 11:01:35
Penyerangan Mapolres Dharmasraya, Sumatera Barat menunjukkan betapa terorisme masih tetap eksis. Meski ruang gerak makin terbatas akibat gencarnya operasi Densus 88 dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), mereka tetap bergerak di bawah tanah. Sesekali melakukan aksi, baik sendirian, maupun berkelompok.

Penyerangan markas polisi sudah pernah dilakukan di Medan, tepatnya Mapolda Sumut. Memang terorisme sangat membenci polisi karena konsisten membabat sel-sel teror di Indonesia. Polisi berada di garis terdepan sesuai amanat UU untuk menangkal dan membasmi. Penangkapan demi penangkapan, acapkali menggagalkan serangan mereka.

Bagi jaringan terorisme, penyerangan markas polisi bukanlah sekadar aksi saja. Mereka menjadikan simbol negara sebagai sasaran, sebagai pernyataan masih aktif. Bisa jadi kaitannya meyakinkan jaringan terorisme global, agar tetap memberi dukungan, baik moral maupun material. Pengungkapan polisi telah berhasil mengendus aliran uang dari luar untuk kelompok-kelompok terorisme di Indonesia.

Dari pengalaman bangsa ini, ternyata tindakan represif tak cukup ampuh memberantas terorisme. Memang Densus 88 dan BNPT harus diakui kinerjanya dalam mendeteksi dan memburu jaringan teror. Namun aksi penyerangan Mapolres Dharmasraya menegaskan upaya rekrutmen teroris baru masih berlangsung. Modusnya sama, dengan 'jualan' agama dan tawaran sorga.

Teroris tidak muncul dalam satu malam. Prosesnya panjang, melalui indoktrinasi berkedok agama. Teori yang mengatakan pelaku teror lahir akibat kemiskinan dan ketidakadilan tidak selalu benar. Seorang pelaku penyerangan Mapolres Dharmasraya, malah merupakan anak aparat. Benang merah dari kasus teror adalah pemahaman agama yang keliru.

Teroris diawali sikap intoleran terhadap perbedaan. Mereka ditanamkan untuk membenci bukan saja yang berbeda agama, tetapi ikut juga yang seagama namun berbeda dalam pemahaman. Orang yang suka mengkafirkan sesamanya berpotensi besar dicuci otaknya menjadi teroris.

Sudah tepat langkah DPR RI menyetujui Perppu Ormas menjadi UU. Organisasi yang membenci Pancasila tak boleh mengembangkan pahamnya di Indonesia. Teroris dan calon teroris sangat tak suka Pancasila, sebab dasar negara ini memberi ruang yang sama bagi semua anak bangsa, tanpa memandang agama dan etnis. Jadi pemerintah tak perlu gentar membubarkan Ormas intoleran dan anti-Pancasila.

Program deradikalisasi harus dilanjutkan untuk memutus mata rantai rekrutmen teroris baru. Napi kasus teror sebaiknya dipisahkan dari yang lain, dan dibina secara khusus. Hanya mereka yang dianggap sudah 'lurus' bisa dibaurkan dengan yang lainnya. Penelitian menunjukkan penjara malah menjadi tempat yang banyak digunakan untuk merekrut teroris baru.

Polisi tak boleh lengah karena teroris masih eksis. Warga harus waspada, jangan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Ketidakpedulian masyarakat membuat para teroris bisa leluasa beraksi. Terorisme tak terkait agama, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan! (**)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menpar Tinjau Kesiapan Bandara Internasional Silangit
Takut Ditangkap, Taipan Arab Saudi Pindahkan Harta ke Luar Negeri
Presiden Jokowi Belum Putuskan Robert Pakpahan Jadi Dirjen Pajak
Novanto Tegaskan Dirinya Masih Ketua DPR
Kereta Kencana dari Solo Ikuti Geladi Kirab Kahiyang-Bobby di Medan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU