Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Kontribusi Laut Indonesia Masih Rendah
Senin, 23 Oktober 2017 | 10:39:19
Indonesia merupakan negara yang memiliki laut sangat luas yakni sekitar 5,6 juta kilometer persegi. Sebanyak dua pertiga dari luas wilayah Indonesia merupakan laut. Di Candi Borobudur terdapat relief yang menggambarkan laut dan perahu. Ini menegaskan sejak dahulu, nenek moyang negeri ini sudah lama mengenal laut.
 
Sayangnya, kontribusinya terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) nasional masih minim. Padahal potensi PDB dari laut sangat besar, sebab memiliki sumber daya alam (SDA) luar biasa. Namun kalah dari sumbangan sektor darat, yakni dari pertanian termasuk perkebunan dan peternakan serta kehutanan yang sama-sama mengandalkan alam.

Subsektor perikanan hanya menyumbang 2,27 persen (sekitar Rp 214 triliun) dari PDB nasional tahun 2016 yang sebesar Rp 9.433 triliun menurut harga konstan. Sementara itu, Kementerian Pertanian mencatat, PDB pertanian menyumbang 17,7 persen atau senilai Rp 1.669 triliun. Kontribusi tertinggi dari perkebunan sebesar 3 persen lebih.

Bandingkan dengan Norwegia yang ekonominya bertumpu pada sektor kelautan dan perikanan. Negara maju di Eropa yang termasuk paling makmur di dunia itu memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita 70.553 dolar AS tahun lalu. Ini 20 kali lipat dibanding Indonesia yang hanya 3.604 dolar AS. Negara tersebut mengalahkan Singapura yang menjadi salah satu pusat jasa keuangan dan perdagangan dunia, yang PDB per kapitanya 52.961 dolar AS.

Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, produksi perikanan Indonesia menempati peringkat ketiga terbesar dunia, hanya kalah dari RRT dan India. Indonesia merupaka  surganya ikan, tempat ikan-ikan bertelur di laut yang hangat. Namun, di sisi lain, kerugian per tahun akibat praktik pencurian ikan (illegal fishing) itu mencapai Rp 300 triliun.

Pemerintahan Jokowi telah menyatakan perang terhadap pencurian ikan. Tindakan tegas penenggelaman kapal pencuri sudah dilakukan, meski sempat memicu kontroversi. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan sudah ditenggelamkan 317 kapal. Tahun ini per Agustus sudah 100 kapal. Dalam waktu dekat akan ada 90 kapal lagi yang ditenggelamkan.

Sayangnya, jumlah nelayan Indoesia terus merosot. Dalam rentang 2003-2013, jumlah keluarga nelayan menyusut 50 persen menjadi sekitar 800.000. Sektor ini kurang diminati masyarakat, khususnya dalam hal ini para generasi muda. Antara lain, dapat dilihat dari survey yang diselenggarakan Jurusanku.com terhadap 10.924 siswa Sekolah Menengah Atas kelas X-XII tahun 2013-2015, yang berminat terhadap jurusan seputar perikanan hanya 12 orang.

Jika ingin meningkatkan kontribusi laut terhadap perekonomian nasional, maka sektor ini harus dikelola lebih profesional. Minat generasi mudah mesti ditumbuhkan, dengan perbaikan di hulu dan di hilir. Kapal nelayan mesti dipermodern, dan pemasaran ikan makin dikondusifkan. Kampanye makan ikan dalam negeri sebaiknya makin agresif, sembari mencari pasar ekspor di negara lain.

Industri perikanan harus digenjot, terutama pengolahan, dalam rangka memberi nilai tambah. Jika hilir maju, maka kesejahteraan nelayan bakal meningkat. Jika nelayan sejahtera, maka minat generasi muda masuk sektor ini bakal melonjak. Pada gilirannya, kontribusi sektor kelautan ke perekonomian bakal mengimbangi, bahkan melampaui sektor darat.(**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anggun Raih 2 Penghargaan Sekaligus dalam Bama Music Awards di Hamburg Jerman
Barang-barang John Lennon yang Dicuri Ditemukan tapi Polisi Tak Bisa Tangkap Tersangkanya
Kendall Jenner Model Termahal Setahun Berpenghasilan Rp28,6 Miliar
Animator Sohor Jepang Ditangkap Kasus Pornografi Anak
Foto Bagian Sensitif Madonna Saat Remaja Dilelang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU