Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Insentif untuk Guru SD
Senin, 16 Oktober 2017 | 12:33:08
Data Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2015 menunjukkan Indonesia masih kekurangan guru kelas PNS untuk SD sebanyak 282.224 guru. Namun jumlah ini belum memasukkan guru bukan PNS atau guru honor. Jika data guru bukan PNS ikut dihitung, maka ada kelebihan 82.245 guru kelas.
Pada tahun yang sama, sebanyak 415 lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), meluluskan 91.247 orang dari Program PGSD. Itu artinya sampai 2025, diproyeksikan lulusan Program PGSD mencapai 444.551 lulusan. Jadi LPTK sebaiknya memertimbangkan kuota mahasiswanya sesuai kebutuhan guru kelas baru di sekolah dasar. Bukan asal menerima mahasiswa, yang bisa berujung justru menambah pengangguran.

Memang kebutuhan guru kelas baru di SD akan meningkat seiring berjalannya waktu. Penyebabnya antara lain seperti guru yang pensiun, semakin sedikit guru baru yang masuk ke dalam sistem dan jumlah siswa di sekolah yang meningkat. Alangkah bijaksananya jika kebutuhan guru selalu diseimbangkan dengan jumlah siswa yang tersedia. Jadi dengan perencanaan yang matang dan terukur, tak ada lagi kelebihan atau kekurangan guru lagi.

Guru merupakan profesi yang menuntut kemampuan khusus selain mengajar yaitu memberi pelajaran berupa ilmu pengetahuan. Khusus guru sekolah dasar (SD) harus menguasai semua bahan ajar mulai dari IPA, IPS, matematika, bahasa sampai muatan lokal. Di banyak daerah, sekolah dasar rata-rata masih memakai guru kelas, karena guru terbatas jumlah dan latar belakang keilmuannya.

Selain mengajar, guru mesti memiliki kemampuan mendidik. Mereka membekali murid dengan membiasakan untuk hidup bertatakrama, bersopan santun dan bersikap terbuka serta mensyukuri nikmat. Jadi, guru sekolah dasar harus mampu menguasai kelas ketika pembelajaran berlangsung.

Apalagi tingkat IQ dan latar belakang murid sangat beragam. Ini merupakan masalah yang harus ditangani setiap guru dengan bijak. Seorang guru SD harus memiliki cara mengajar yang mudah, efektif serta bisa menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Jika tidak, guru tersebut bisa stres sendiri atau siswanya tak mengalami kemajuan berarti.

Guru SD mesti menguasai teknik mengajar yang interaktif dengan murid. Komunikasi berjalan interaktif, dari guru dengan murid, murid dengan murid dan murid dengan guru. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mampu membuat murid betah untuk belajar dan akhirnya proses mengajar pun bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan.

Tujuan guru menjadikan anak didik ber-IQ (kecerdasan intelektual), ber-EQ (kecerdasan emosional), dan ber-SC (kecerdasan spiritual). Ini sesuai dengan tuntutan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang berpedoman kepada BSNP (Badan Standar Pendidikan 2006). Apalagi di level SD, pada tahap awal kelas sekolah dasar yang untuk pertama kali belajar menulis, membaca, berhitung (calistung).

Sangat tidak mudah menjadi guru SD. Keberhasilan proses pendidikan di tingkat lanjut, sangat tergantung bagaimana seseorang di SD. Itu sebabnya, orang-orang yang mengabdi sebagai guru SD patut mendapat apresiasi. Mereka harus diberi reward yang pantas, berupa insentif khusus, mengingat tingkat kesulitan yang berbeda dari guru lainnya. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anggun Raih 2 Penghargaan Sekaligus dalam Bama Music Awards di Hamburg Jerman
Barang-barang John Lennon yang Dicuri Ditemukan tapi Polisi Tak Bisa Tangkap Tersangkanya
Kendall Jenner Model Termahal Setahun Berpenghasilan Rp28,6 Miliar
Animator Sohor Jepang Ditangkap Kasus Pornografi Anak
Foto Bagian Sensitif Madonna Saat Remaja Dilelang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU