Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Mewujudkan HKBP yang Inklusif
Minggu, 15 Oktober 2017 | 11:01:14
Selama beberapa hari ke depan, para pendeta HKBP yang tersebar di seluruh dunia, berkumpul di Seminarium, Sipoholon, Tarutung. Tak cukup hanya sehari, bahkan dirancang hampir sepekan. Ada sekitar 1.800-an hadir memberi kontribusi dalam rapat pendeta tersebut.

Menurut aturan peraturan (AP) 2002, setelah amandemen kedua, rapat pendeta akan diadakan sekali dalam dua tahun. Ada paling tidak dua belas agendanya.
Jadi bukan semata-mata memilih Ketua Rapat Pendeta (KRP) yang baru, untuk menggantikan Pdt Dr Darwin Lumbantobing, yang sekarang menjabat sebagai Ephorus.

Pertama, mendoakan seluruh warga jemaat dan seluruh pelayanan HKBP, bangsa dan negara, gereja-gereja dan seluruh dunia. Kedua, membahas dan melakukan evaluasi pelaksanaan Konfesi, Ruhut Parmahanion & Paminsangon, dan Agenda HKBP. Ketiga, merumuskan dan menetapkan Konfesi, Ruhut Parmahanion & Paminsangon dan Agenda HKBP untuk disahkan oleh Sinode Godang.

Keempat, merumuskan pernyataan iman HKBP tentang pokok-pokok pergumulan dalam kehidupan untuk disahkan oleh Sinode Godang. Kelima, menetapkan Pedoman Pengajaran Sekolah Minggu, Pedoman Pengajaran Remaja, Pedoman Pengajaran Pemuda, Pedoman Pengajaran Perempuan, Pedoman Pengajaran Kaum Bapak serta Pedoman Pengajaran Lansia.

Keenam, menetapkan Pedoman Katekisasi Pra Baptis Anak dan Dewasa, Pedoman  Katekisasi Sidi, dan Pedoman  Katekisasi Pra Nikah, serta Pedoman Katekisasi Calon Sintua. Ketujuh, memilih Ketua Rapat Pendeta. Sebelum pemilihan dilakukan, terlebih dulu diadakan ibadah. Kedelapan, memberikan masukan teologis khususnya eklesiologis kepada Komisi Aturan dan Peraturan HKBP. Kesembilan, memberikan masukan kepada lembaga-lembaga pendidikan teologi milik HKBP.

Sepuluh, menumbuhkembangkan persaudaraan di antara semua pendeta HKBP. Sebelas membicarakan dan menerima kembali pendeta HKBP yang dikenai sanksi Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon HKBP. Terakhir, mendoakan seluruh keputusan rapat dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk melaksanakannya.

Dari keduabelas tugas ini, tampak jelas betapa strategisnya rapat pendeta ini. Bukan sekadar seremoni atau reuni sesama hamba Tuhan, atau satu alumni. Ada tanggung jawab besar untuk membawa dan mewujudkan HKBP menjadi berkat bagi dunia, menjadi gereja yang inklusif, bukan eksklusif, yang hanya memikirkan dirinya.

Kita berharap dan berdoa, rapat pendeta menghasilkan keputusan berkualitas. Audiens harus memilih Ketua Rapat Pendeta yang benar-benar mau bekerja dan memahami pergumulan para pendeta HKBP yang tersebar di desa, kota, pinggiran atau metropolitan.

Berhentilah memilih seseorang pada posisi strategis, hanya karena kedekatan personal atau primordial. Tinggalkan sikap kampanye hitam, untuk membunuh karakter seseorang. Gereja memerlukan pendeta yang benar-benar berjiwa sebagai pendeta. Selamat berrapat Pendeta! (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
JK Pimpin Mediasi Perdamaian Afghanistan di Istana Wapres
Kesuksesan MTQ Provsu Tolok Ukur Keberhasilan MTQN 2018
Tahap Awal, 1.075 Ha Areal Sawit Rakyat di Sumut Peroleh Hibah Peremajaan
Pengusaha Senior Sumut Tak Berminat Maju Pimpin Kadin SU?
Jelang Hari-H Resepsi Putri Jokowi, Order Spanduk-Baliho di Medan Melonjak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU