Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Bangsa yang Bhineka Tapi Tetap Satu
Jumat, 18 Agustus 2017 | 11:08:32
Kemarin ada yang berbeda di Istana Negara. Biasanya pakaian peserta upacara sudah diatur dalam uniform tertentu. Jika tidak setelan jas, maka biasanya menggunakan batik. Dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72, orang-orang yang hadir mengenakan busana khas daerah masing-masing.

Penggunaan pakaian khas daerah secara simbolik merupakan pengakuan yang utuh atas keragaman bangsa ini. Fakta tak terbantahkan, Indonesia terdiri dari ribuan suku bangsa. Mereka memiliki hak hidup yang sama di negeri ini, apapun sukunya.

Momen HUT RI ini sangat tepat, sebab bangsa ini sedang menegakkan kembali pentingnya persatuan dan kesatuan. Sebab ada upaya secara masif memecah belah dengan menggunakan isu agama dan etnis. Seolah Indonesia hanya milik kelompok tertentu dan mereka yang pemilik sah, sementara yang lain hanya indekos.

Keindonesiaan sedang terancam gerakan-gerakan radikalisme. Mereka kadang menyelusup saat Pilkada, digunakan politisi secara sadar, maupun tak sadar. Bahkan ada upaya merusak generasi muda melalui buku-buku anti-Pancasila.

Kebijakan Presiden Jokowi ini patut diapresiasi. Namun jangan terhenti dalam seremonia saja. Harus ada komitmen semua pejabat negara untuk merawat kebhinekaan. Jangan lagi ada yang mengeksploitasi isu SARA untuk ambisi pribadinya, demi melanggengkan kekuasaan.

Pemerintah sebaiknya berani menindak pejabat yang masih memakai isu etnis atau agama, dalam kesehariannya. Dalam proses rekrutmen ASN dan pengangkatan pejabat, harus benar-benar dicek pemahamannya tentang Pancasila dan kebhinekaan. Bahkan jika terbukti terlibat di ormas berhaluan radikalisme, harus segera dianjurkan memilih, menjadi ASN atau anti-Pancasila.

Program dan aturan yang diskriminatif mesti dibabat habis. Sebaiknya dihentikan jika ada yang memilah-milah warga negara atas nama agama atau etnis. Apalagi misalnya bantuan dari anggaran negara, tak boleh membeda-bedakan, dengan ukuran mayoritas atau minoritas.

Kita berharap penghargaan terhadap keragaman berlanjut hingga ke daerah. Sebab harus diakui di beberapa daerah, masih ada kesan mengabaikan fakta keragaman suku bangsa. Padahal kita hidup di negara yang sama, dengan dasar Pancasila yang memberi ruang yang sama terhadap perbedaan.

Jika bukan kita yang menghargai diri sendiri sebagai bangsa, siapa lagi? Keragaman bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan besar, asal digunakan dengan benar. Indonesia yang bhineka tetapi bersatu untuk kemajuan bangsa. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
13 Kecamatan di Medan Rawan Bencana
Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Guru PAUD
Proyek Penimbunan Jalan Provinsi Rp 10 M di Silau Laut Asahan Terancam Tak Selesai
Hakim Cecar Nazaruddin Soal Dugaan Novanto Terima USD 500 Ribu
Pengunduran Diri Ngogesa Sitepu Sebagai Cawagubsu Disahkan Golkar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU