Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Menggairahkan Kembali Sektor Manufaktur
Jumat, 11 Agustus 2017 | 14:54:52
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan produksi manufaktur industri mikro dan kecil (IMK) secara tahunan (yoy) hanya tumbuh 2,5 persen pada kuartal II 2017 dibanding 6,56 persen pada kuartal II 2016. Produksi manufaktur industri besar dan sedang (IBS) juga cuma tumbuh 4 persen (yoy). Lebih rendah dari periode sama 2016 sebesar 5,01 persen.

Nikkei dan IHS Markit mengonfirmasikan hal yang sama. Indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) Indonesia yang dirilisnya menunjukkan produksi manufaktur Indonesia mengalami penurunan tercepat dalam 19 bulan terakhir.Tingkat kepercayaan bisnis turun ke level terendah selama empat tahun.

Kontribusi industri manufaktur kepada pertumbuhan ekonomi makin lama makin berkurang. Porsi sektor tersebut terhadap struktur ekonomi nasional saat ini hanya sekitar 20 persen. Sumbangan tersebut semakin menurun dari tahun ke tahun. Padahal, sebelumnya industri manufaktur bisa menyumbang porsi lebih dari 28 persen bagi capaian pertumbuhan ekonomi.

Kredit untuk industri manufaktur ikut menurun hingga 17 persen dari total kredit yang ada. Dulu di atas 20 persen dari total kredit Indonesia. Bank tak bisa disalahkan, sebab sifatnya hanya merespons permintaan. Apalagi selama ini perbankan gencar membiayai sektor manufaktur. Jadi ada kaitannya dengan pelemahan industri ini.

Industri manufaktur merupakan sektor strategis. Selain menyerap 16 juta tenaga kerja, industri ini berkontribusi 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Jika industri manufaktur terkena krisis, penganggur terbuka yang pada Februari 2017 berjumlah 7,01 juta atau 5,22 persen dari populasi akan bertambah. Jumlah penduduk miskin yang pada Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen) bakal meningkat.

Artinya jika industri manufaktur mengalami penurunan hingga titik terendah, maka pemutusan hubungan kerja (PHK) akan terjadi. Dampaknya sangat besar, bukan hanya menambah jumlah pengangguran, juga menjadi beban bagi pemerintah karena orang miskin bertambah. Estimasi pertumbuhan ekonomi juga bakal melorot dari rata-rata di atas lima persen selama ini.

Perlu penjelasan apa sebenarnya yang terjadi. Benarkah ada kaitannya dengan krisis ekonomi global yang belum pulih? Atau ada penyebab lain yang membuat manufaktur melemah. Jadi ada solusi komprehensif agar industri ini kembali bergairah.

Mesti dipahami, industri manufaktur berkaitan dengan kebutuhan akan barang setengah jadi. Jika ingin mendorong pertumbuhan industri manufaktur perlu didukung oleh industri di sektor hulu. Untuk itu, pemerintah perlu berkomitmen menjaga kinerja industri hulu. Karena cakupannya luas, maka harus ada prioritas.

Kita otpmistis ada perbaikan signifikan selama beberapa tahun terakhir di Indonesia. Walau harus diakui masalah tidak langsung selesai, masih ada di sana-sini yang masih dibenahi. Tim ekonomi harus bergegas, terutama memacu kembali industri manufaktur agar kontribusinya bisa kembali di atas 20 persen. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menggairahkan Kembali Sektor Manufaktur Lokasi Dikeluhkan Tidak Layak, Komisi C DPRD Medan Tinjau Pasar Sambu
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU