Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Mencermati Manuver China dalam Jalur Sutera
Selasa, 16 Mei 2017 | 13:15:56
Manuver yang dilakukan China patut dicermati. Negara tirai bambu ini sedang berupaya menunjukan kekuatan ekonominya dengan menggelar Belt and Road for International Cooperation yang sedang berlangsung di Beijing. Langkah ini cukup menarik dan berpotensi mengubah peta politik dunia, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan.

Dalam pertemuan di Beijing,  China mengundang 110 negara, termasuk negara-negara Eropa untuk membangkitkan jalur sutera. China yang sekarang sudah berbeda.  Hal itu tecermin dari geliat ekonomi dan teknologinya yang semakin maju.

Presiden China Xi Jinping berencana menghidupkan kembali jalur perdagangan yang menghubungkan China, Asia Tengah dan Eropa menjadi kampanye untuk meningkatkan pertumbuhan perdagangan dan ekonomi global. Ini agak paradoks, sebab tren globalisasi mulai memudar di AS dan Eropa. Belt and Road Initiative (BRI) atau jalur sutera modern tetap menarik minat negara-negara berkembang dan negara maju.

China tampaknya tidak memiliki batasan geografis, mereka mengincar negara-negara lain untuk bergabung. Selandia Baru dan Afrika Selatan menjadi negara terbaru yang akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan China untuk mengikuti jalur sutera modern ini. Jadi bukan sebatas negara yang berbatasan langsung dengan mereka.

Dengan perkiraan total investasi sebesar 13 miliar dolar AS dalam 25 tahun, China mengembangkan pelabuhan utama di Kota Kolombo, Sri Lanka. Selain itu, juga mengembangkan jalur kereta api, kilang, jembatan, kawasan industri dari Bangladesh hingga Belarus. Sebuah rute kereta yang menghubungkan pantai timur China dan London telah mulai beroperasi.

Dengan jarak lebih dari 12.000 km dan melewati sembilan negara. Jalur tersebut memungkinkan pengiriman kargo melintasi benua Eurasia hanya 18 hari. Ini capaian luarbiasa yang menghemat waktu dan ekspor impor dalam jumlah yang spektakuler, yang tentu saja akan lebih murah.

Memang sejarah investasi China tidak selalu sukses.Mereka juga memiliki catatan investasi yang tidak mulus. Misal di Venezuela, proyek kereta api berkecepatan tinggi di negara Amerika Latin tersebut mangkrak, setelah tahun lalu gagal membayar pokok pinjaman dalam program pinjaman karena krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri.

Tak sedikit yang skeptis meragukan bahwa jalur sutera modern tersebut merupakan upaya China mengekspor kelebihan kapasitas industri. Lalu, berusaha menghasilkan kontrak baru untuk industri milik negara yang membengkak, atau yang lebih buruk lagi. Bahkan akan memaksa semakin banyak tetangga mengikuti rencana strategisnya.

Namun Indonesia tak boleh apriori melihat investasi China yang sudah berjasa membuka pertumbuhan ekonomi di wilayah yang luas. Bagi China, pertemuan tingkat tinggi ini merupakan kesempatan untuk meyakinkan dunia bahwa globalisasi memang memiliki momentum baru. Indonesia jika tak ingin ketinggalan kereta, mesti proaktif mencermati dinamika global ini, dan memanfaatkannya bagi kepentingan dalam negeri. (**)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
13 Kecamatan di Medan Rawan Bencana
Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Guru PAUD
Proyek Penimbunan Jalan Provinsi Rp 10 M di Silau Laut Asahan Terancam Tak Selesai
Hakim Cecar Nazaruddin Soal Dugaan Novanto Terima USD 500 Ribu
Pengunduran Diri Ngogesa Sitepu Sebagai Cawagubsu Disahkan Golkar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU