Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Hormati Pilihan Warga Jakarta
Kamis, 20 April 2017 | 13:43:06
Akhirnya rakyat Jakarta memutuskan siapa yang dipercayainya menjadi gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun mendatang. Siapa mereka sudah diumumkan melalui pernghitungan cepat (quick count). Meski bukan hasil final sebab harus menunggu rekapitulasi resmi di KPU, sudah gambaran siapa pemenangnya.

Tanggapan terhadap hasil Pilkada tentu beragam. Ada yang gembira dan selanjutnya larut dalam euforia. Sebagian mungkin tak menerima, dan menuduh ada kecurangan di sana-sini. Itu reaksi yang wajar dalam pertandingan manapun, apalagi dalam Pilkada.

Hasil hitung cepat sudah memadai memberi gambaran. Biasanya, hasilnya tak jauh beda, meski beberapa lembaga survei yang melakukannya. Sebab survei adalah metode ilmiah, yang berbasis statistik. Jika ternyata hasil dari KPU berbeda jauh dari hasil hitung cepat, maka integritas lembaga surveinya dipertaruhkan.

Di Amerika Serikat, kandidat tak menunggu perhitungan resmi untuk mengucapkan selamat. Mereka biasanya dengan rendah hati mengucapkan selamat ke pemenang. Semua memberi kesempatan bagi yang terpilih melaksanakan tugasnya dan menunggu Pemilu berikutnya untuk bertarung.

Sayangnya, mengucapkan selamat belum menjadi budaya di Indonesia. Sangat jarang ada kandidat mengakui kekalahannya. Walau ada yang berjiwa besar, umumnya setelah penetapan KPU. Tingkat gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) masih tinggi, yang tetap tak menerima hasil akhir.

Diharapkan aparat keamanan tetap siaga meski hari pemilihan susah selesai. Tingkat konflik masih tinggi, apalagi jika masih ada yang tak terima dengan proses dan hasil Pilkada. Pengerahan massa sangat rentan menimbulkan konflik horizontal dan vertikal. Apalagi dibumbui isu SARA yang sudah ramai sejak awal Pilkada.

Kandidat baik yang menang maupun yang kalah versi hitung cepat, mesti menenangkan pendukungnya. Protes dan ketidakpuasan bisa dicurahkan, hanya ada mekanismenya, yakni menggugat ke MK. Pengerahan massa tidak akan mengubah apa-apa, kecuali bisa menunjukkan bukti kecurangan yang massif di MK.

Untuk itu diperlukan jiwa besar masing-masing calon untuk menerima apapun hasil Pilkada. Upaya sudah maksimal dilakukan selama masa kampanye untuk meyakinkan pemilih. Namun, keputusan tetap ada di tangan yang memiliki hak suara. Jika kandidat bisa tenang dan legowo, maka pendukungnya akan damai juga, meski bisa terjadi sesuatu akibat ulah provokator.

Meski belum final, selamat bagi yang sudah menang, pesta kemenangan sebaiknya ditunda hingga ada penetapan KPU, dan MK jika ada menggugat. Perlu diingat, cara  mengabdi ke negeri ini bukan hanya sebagai gubernur saja. Masih banyak cara lain, untuk berbuat bagi kemajuan bangsa ini. (**)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
2 Heli BNPB Dikerahkan Padamkan 69 Hektare Lahan Terbakar di Aceh
Menhan Ingatkan Purnawirawan Pegang Teguh Sumpah Prajurit
Polisi Canangkan Bulan Tertib Trotoar pada Agustus 2017
Dirjen Bina Marga: Tol Darurat Berdebu, Kami Perbaiki di 2018
Tolak Reklamasi, Aliansi Nelayan Gelar Demo di Gedung DPRD DKI
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU