Home  / 
Citra Ibu Tiri Zaman Sekarang Lebih Positif
Minggu, 1 Juli 2018 | 12:25:57
Memasuki jenjang pernikahan bukanlah hal yang mudah, apalagi jika calon suami berstatus duda, dan sudah mempunyai anak dari pernikahan sebelumnya. Peran ganda yang langsung disandang seorang perempuan, menjadi istri dan ibu pada anak dari pernikahan suami sebelumnya, bukanlah perkara sederhana.

Mengurus, menyayangi, dan bertanggung jawa pada anak yang tidak lahir dari rahim sendiri memberikan tantangan tersendiri untuk sebagian perempuan. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa ibu tiri atau ibu sambung tidak dapat mencintai anak-anak tiri mereka, seperti mereka mencintai anak-anak kandung.

Gambaran ibu tiri sebagai sosok perempuan kejam pada anak-anak tiri saat ini sudah sangat ketinggalan zaman. Mungkin sudah saatnya kita meninggalkan atau menulis ulang dongeng-dongeng yang menggambarkan kekejaman ibu tiri, seperti Snow White dan Cinderella.

Lihat saja beberapa selebritas tanah air yang menjadi ibu sambung seperti Ashanty, Laudya Cynthia Bella, Zaskia Adya Mecca, Ririn Dwi Arianti, atau Mieke Amalia, mereka tampak begitu kompak dan saling menyayangi.

Ashanty, yang menikah dengan musisi Anang Hermansyah, kerap tampil kompak dengan Aurel, anak pertama suaminya dengan artis Krisdayanti. Dia juga yang menengahi ketika Aurel dan adiknya, Azriel, yang sempat diberitakan mempunyai hubungan yang buruk dengan ibu kandungnya.

"Mereka baik-baik saja, apalagi Aurel sama mamanya, pasti baiklah" jelasnya dikutip dari Kompas. "Enggak mungkin anak-anak enggak dekat, enggak sayang. Cuma kadang-kadang banyak pihak yang manasin, jadi orang menilainya beda."

Di sisi lain, dalam wawancara dengan Liputan 6 beberapa waktu yang lalu, Aurel sampai menitikkan air mata haru ketika menjelaskan kepada wartawan tentang bagaimana akhirnya dia dan Azriel mendapatkan sesuatu yang selama ini belum pernah diterima; kepedulian seorang ibu yang memerhatikan dari ujung kaki hingga kepala.

Tim Lott, seorang kolumnis di harian The Guardian, mengungkapkan bahwa kehidupan seorang ibu tiri bukanlah seperti kisah-kisah dongeng, di mana ibu tiri bisa ongkang-ongkang kaki dan memerintahkan anak-anak tirinya untuk melakukan perintah. Dalam suatu pernikahan yang melibatkan anak-anak dari pernikahan sebelumnya, semua orang berada dalam posisi yang sulit.

Anak-anak mungkin merasa dikhianati orang tua yang membagi kasih sayang dan kesetiaan dengan pasangan barunya. Orang tua yang bingung bagaimana bersikap agar tidak disalahartikan dan dianggap berlaku tidak adil. Belum lagi stereotip ibu tiri jahat sangat kuat di masyarakat.

Peran sebagai ibu sambung memang sangat menantang, tetapi sedikit mendapat dukungan, pengertian dan penghargaan dari orang lain. Hal ini diungkapkan oleh Rachelle Katz, seorang psikoterapis dan penulis buku The Happy Stepmother, seperti yang diungkapkannya dalam The Huffington Post.

Sementara Dr. Rose Mini Adi Prianto, psikolog dari Universitas Indonesia kepada Tempo mengatakan bahwa ayah seharusnya menjadi jembatan agar hubungan ibu tiri dan anak-anaknya berjalan mulus. Sebagai langkah awal, seorang ayah seharusnya memberitahukan anak-anaknya bahwa dirinya sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang kelak akan menjadi ibu mereka. Hal ini penting untuk mempersiapkan anak-anak, dan juga calon istri, bahwa akan ada sosok baru dalam kehidupan mereka. Mengatur waktu untuk bertemu dan berkenalan juga harus dilakukan dengan bijak.

Romi, panggilan akrab Rose Mini, menambahkan agar calon ibu tidak buru-buru bersikap sok akrab dan banyak bertanya. Jangan langsung mencari perhatian, misalnya dengan meminta anak memanggil dengan sebutan ibu atau mama. Hal seperti ini justru akan membuat anak-anak merasa enggan dan tidak nyaman.

Rachelle Katz memberikan beberapa tips agar para ibu tiri menjadi kesayangan anak-anak mereka;

Miliki dan nikmati waktu berkualitas bersama anak-anak tiri. Berinteraksilah dengan cara yang berarti dan menyenangkan. Sediakan waktu pribadi dengan setiap anak tiri. Temukan minat dan aktivitas bersama, misalnya, hobi atau olahraga. Hubungan yang penuh dengan perhatian, cinta dan cair dengan anak tiri akan menjadi lebih mudah ketika ibu tiri tidak merasa terbebani dengan tanggung jawab sebagai orang tua, dan dapat menikmati waktu bersama.

Biarkan pasangan atau ayah secara aktif mengurus rumah dan merawat anak-anaknya juga. Menjadi istri, dan ibu tiri, tidak secara otomatis menjadikan seseorang sebagai pengurus rumah tangga utama. Waktu untuk sendiri tetap diperlukan.

Biarkan pasangan atau ayah yang mendisiplinkan anak-anaknya agar berperilaku baik dan memberitahukan batasan pada mereka, karena jika ibu tiri yang melakukannya maka bisa jadi anak-anak akan tidak menyukainya. Ibu tiri perlu menegaskan otoritasnya untuk membantu anak-anak tumbuh dan berkembang. Merasa aman dan terlindungi, serta memastikan bahwa dinamika keluarga tidak lepas kendali.

Menetapkan peraturan rumah, untuk memastikan sikap saling menghormati. Peraturan ini harus dipatuhi setiap orang dalam keluarga. Bahkan jika anak-anak tiri sudah cukup besar, mereka dapat berpartisipasi dalam menyiapkan aturan dan konsekuensinya.

Menjadi ibu tiri bukan berarti melupakan kebutuhan untuk menghabiskan waktu dengan suami. Setidaknya pergilah nonton film atau makan malam berdua saja. Kegiatan ini haruslah menempati prioritas utama,karena berguna untuk memperkuat hubungan dan akan memudahkan penyelesaian masalah yang mungkin timbul.

Mencintai anak-anak tiri dengan tulus. Seringkali para ibu tiri merasa tertekan bahwa mereka harus mencintai anak-anak tiri dan berharap anak-anak tiri akan membalas cinta sebagai balasannya. Cinta adalah emosi yang tidak bisa dipaksakan. Berikan kebaikan, kasih sayang dan rasa hormat pada mereka.

Tidak berbeda dengan orang tua kandung, orang tua atau ibu tiri juga merupakan model bagi anak-anaknya, termasuk anak tiri. Oleh karena itu jadilah model yang baik bagi mereka.

Jika mengalami penolakan, jangan buru-buru dimasukkan hati. Berikan kesempatan pada anak-anak. Kenali sebabnya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Bisa jadi anak-anak takut akan menyakiti hati ibu kandung mereka, jika mereka dekat dengan ibu tiri, atau berbagai sebab lainnya.

Ciptakan tradisi keluarga bersama, termasuk liburan bersama. Menghabiskan waktu bersenang-senang bersama, dapat membuka jalan kedekatan ibu tiri dan anak-anaknya. (Beritagar.id/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Penumbangan Plang Organisasi Picu Bentrokan Dua Kelompok Pemuda di Percut Seituan
Anggaran Revitalisasi Pendopo dan Gudang di Lapangan Merdeka Ditolak Anggota Pansus DPRD Medan
Perbaikan FM IPA Sibolangit Ganggu Distribusi Air di 33 Kawasan
DPRD Dorong Pemko Medan Perpendek Birokrasi Pengurusan Izin
Politisi Gerindra Minta Pengaspalan Gang Harus Diikuti Jalan Utama
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU