Home  / 
Sinta Nuriyah Wahid Tak Henti Perjuangkan Hak Perempuan dan Keberagaman
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:50:15
Sinta Nuriyah Wahid
Sinta Nuriyah Wahid tak henti memperjuangkan hak perempuan dan keberagaman di Indonesia. Aktivitasnya berkutat di level pemikiran dan aksi di lapangan.
Ketika perempuan berkerudung itu ditanya oleh media Amerika Serikat, The New York Times, pada 2017 mengenai apakah kalangan muslim moderat di Indonesia dapat membalikkan gelombang fundamentalisme Islam, dia menyodorkan jawab menyiratkan kecemasan.

Menurutnya, "perjuangan kita kini lebih berat" ketimbang saat melawan kekuatan kolonial dan imperial, "karena yang kita hadapi bukanlah orang asing, melainkan bangsa sendiri".

Setahun setelah pernyataan tersebut, saat disambangi ke kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (1/5), perempuan berusia 70 itu kini menyahut dengan nada positif.

"(Saya) masih optimistis" dengan kain keberagaman Indonesia. Soalnya, karakter orang-orang Indonesia "sebenarnya baik. Kalau diajak secara baik-baik (ihwal) kerukunan, persaudaraan, Insya Allah mereka bisa," ujarnya.

Ekspresi sedemikian muskil diproduksi oleh insan berkarakter lembek. Rekam jejak Sinta Nuriyah Wahid, persis memamerkan ketinggian integritasnya.

Sebagian kecil afirmasi atas kekukuhan persona itu diimpor dari media internasional. Pada 2017, The New York Times menabalkannya sebagai satu dari 11 perempuan berpengaruh dunia yang dianggap telah melakukan "hal-hal luar biasa".

Tahun ini, giliran Time mendudukkannya dalam lis 100 manusia paling berpengaruh sejagat pada kategori "Ikon" bersama Jennifer Lopez dan Rihanna, untuk menyebut sedikit saja nama.

Time menilai Sinta Nuriyah--yang duduk di kursi roda sejak mengalami kecelakaan mobil pada awal dekade 1990-an--"pantang mundur" menjaga kerukunan beragama, satu kondisi yang dia ibaratkan sebagai kebun bunga.

"Di dalam (kebun itu) ada mawar, melati, anggrek, asoka. Semuanya cantik. Tak satu pun bisa memaksa mawar untuk menjadi melati, atau anggrek menjadi asoka," ujarnya seperti ditulis Mona Eltahawy.

Sesobek diri Sinta Nuriyah yang mengupayakan kerukunan itu melekat pada kegiatan sahur keliling Ramadan. Aktivitas yang ditelurkan pada ujung milenium kedua itu tergolong out of the box karena melibatkan komunitas lintas agama.

"Kita mencoba mengundang yang Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya. Setelah bertemu, mereka senang karena merasa diwongke, merasa dianggap," katanya.

Awalnya, kegiatan itu merangkul "10 komponen yang ada di masyarakat". Sasarannya, "kaum duafa", yakni warga yang status ekonomi dan sosialnya lemah. Posisi mereka hampir selalu dipinggirkan.

"Saya membayangkan bagaimana mereka menyiapkan sahurnya, kalau pengin puasa dengan baik. Lalu saya membayangkan tukang-tukang becak kalau malam seringkali tidur meringkuk di becaknya. Kalau seperti itu kan, ya, kasihan banget," ujarnya.

Jakarta menjadi kota pelopor sahur keliling. Perhentian pertama persis di muka Pasar Rumput, Jakarta Selatan.

Dari situ, Sinta Nuriyah menjamah lokasi lain seperti "kolong jembatan layang menuju Tanjung Priok, di dekat terminal, dekat stasiun kereta api," di area Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Namun, setahun usai suaminya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, digulingkan dari kursi kepresidenan pada 2001, sahur keliling bergerak ke wilayah lain. Surabaya menjadi kota pertama di luar Jabodetabek yang mewadahi kegiatan tersebut. Ikut membantunya saat itu, Yosef Eko Budi Susilo, sosok yang sekarang menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya.

"Pertama acara itu kita lakukan, yang menemani saya itu keuskupan (Surabaya) bersama Romo Eko, dan Matakin," kata Sinta Nuriyah. Matakin disebut di situ kependekan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia. "Romo Eko itu setiap minggu keliling ngasih makanan untuk kaum duafa, untuk mereka sahur, meski enggak ada saya".

Setelah biasa mengajak peserta sahur keliling untuk memahami hakikat puasa, lalu Sinta Nuriyah mulai menjangkitkan ide keberagaman--yang seturut hematnya merupakan "inti Bhinneka Tunggal Ika"--yakni "saling toleran, saling menolong, dan sebagainya".

Menularkan kesetaraan gender
Sobekan lain pribadi Sinta Nuriyah menempel pada Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) dan PUAN Amal Hayati. Serpih dirinya pada dua lembaga itu agaknya berakar pada masa ketika dia belajar di pesantren dan Program Kajian Wanita Universitas Indonesia--sekarang Kajian Gender.

Sinta Nuriyah menginisiasi PUAN pada Juli 2000, tiga tahun setelah membidani kelahiran Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) pada 1997.

"PUAN itu (akronim) Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan. Amal artinya harapan. Hayati artinya hidupku," ujar Sinta Nuriyah.

PUAN Amal Hayati bergerak dalam kasus-kasus yang di antaranya melibatkan kekerasan terhadap perempuan. Dalam bergiat, lembaga tersebut menjadikan pesantren sebagai basis gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Pasalnya sederhana: kiai atau pengasuh pesantren berpengaruh kuat di masyarakat. Jika mereka menerima, perjalanan dakwahnya akan selalu menjinjing misi sama dengan PUAN Amal Hayati.

"Kita mulai mencoba masuk pesantren untuk memberikan pencerahan kepada para tokoh agama di pesantren, para pengasuh pesantren, tentang masalah keadilan gender," katanya.

Titik berat semesta FK3 adalah melakukan kritik sekaligus tafsir ulang atas kitab kuning yang cenderung bias gender. Satu produknya berjudul Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab Uqud Al-Lujjayn.

Terbitan yang dianggap kontroversial itu membongkarUqud Al-Lujjayn, bacaan beken di lingkungan pesantren, meski bukan buku rujukan utama.

"Itu kitab tentang hubungan suami-istri. Di situ, di dalam kitab itu, dijelaskan penindasan kepada perempuan betul-betul. Perempuan harus melayani suami dengan sedemikian rupa. Apa-apa harus pamit, harus segala macam," ujar Sinta Nuriyah sedikit menyingkapkan kandungan buku.

Tafsir ulang atas karya Nawawi Al-Bantani, seorang ulama abad ke-19 asal Indonesia yang lantas mengajar dan berdomisili di Arab Saudi, tersebut diupayakan dengan cara mencari tandingan dari "ayat-ayat dan penjelasan-penjelasan" terpacak.

Prosesnya tidak mudah. Dan anehnya, Sinta Nuriyah bilang para kiai senior justru sanggup menerima hasil reinterpretasi tim FK3. Menurutnya, itu mungkin terjadi "karena bacaan (para kiai sepuh itu) kitab-kitab (rujukan) yang besar dan tebal".

Pihak yang berdiri pada posisi berontak, "yang melakukan perlawanan," ujarnya, malah "ustaz-ustaz muda". Kata dia, sikap itu bisa jadi tercungkil karena mereka merasa "kenyamanannya terancam dengan adanya reinterpretasi bahwa suami-istri setara".

Demi menebalkan argumentasi, Sinta Nuriyah pun di depan kami lancar menukil potongan firman Tuhan dari Alquran. "Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna," katanya saat melafalkan bagian ayat 187 surat Al-Baqarah; mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka.

Melalui sepak terjangnya di dunia pemikiran and aktivisme pada dasawarsa 1990-an, Sinta Nuriyah tak pelak termasuk salah satu tokoh perempuan gelombang pertama dari Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, yang aktif menyuarakan wacana gender serta agama.

Dan kala itu agaknya Siti Musdah Mulia, penerima Yap Thiam Hien 2008, dapat disejajarkan dengannya. (Generasi berikut yang patut disebut di antaranya Farha Ciciek dan Neng Dara Affiah).

Sinta Nuriyah mengaku kesadaran mengenai ketidakadilan gender baru bersemi saat dia menempuh studi di Program Kajian Wanita awal 1990-an. Tapi, pertanyaan mengenai ketimpangan relasi laki-laki dan perempuan sesungguhnya sudah terbit waktu dia masih menjadi santri di usia belasan.

"Karena masih kecil, (pertanyaan mengenai ketimpangan) hilang begitu saja," katanya. (Beritagar.id/R19/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepergok Mencuri, Seorang Pria Dimassa Warga di Pematangsiantar
Simpan Sabu di Tempat Beras, IRT Dituntut 1 Tahun Suaminya 7 Tahun di PN Simalungun
Polrestabes Medan Ringkus Pelaku Penggelapan di Tangerang
Jual Sabu Tanpa Hak Dituntut 10 Tahun di PN Simalungun
Memperkosa Gadis Tetangga, Suratman Divonis 6 Tahun Penjara
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU