Home  / 
Anak Perempuan Sebaiknya Kurangi Waktu Bermedia Sosial
Minggu, 22 April 2018 | 13:29:02
Mungkin ini saat yang tepat bagi anak perempuan untuk mengurangi waktu bermedia sosial.

Pasalnya, satu penelitian baru melaporkan remaja dan praremaja putri yang menghabiskan terlalu banyak waktu di Facebook, Instagram, dan media sosial lain mungkin akan merasa diri mereka lebih buruk.

Berbagai temuan tentang bagaimana media sosial dapat sedemikian berpengaruhnya pada berbagai aspek kehidupan terus muncul. Tidak mengherankan jika dampaknya sangat negatif pada kaum muda.

Fakta terbaru diungkap satu penelitian bertajuk Gender differences in the associations between age trends of social media interaction and well-being among 10-15 year olds in the UK. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health.

Kata para peneliti, anak perempuan jauh lebih aktif di media sosial pada awal masa remaja. Waktu yang mereka habiskan di berbagai platform media sosial tampaknya mengurangi kebahagiaan dan menurunkan kesejahteraan mereka.

"Kami menemukan bahwa anak perempuan yang lebih banyak berinteraksi di media sosial pada usia 10 tahun memiliki kesulitan sosial dan emosional yang lebih buruk pada usia 15 tahun," kata Cara Booker, rekan peneliti dari University of Essex di Inggris.

Dalam studi ini, Booker dan koleganya mengamati data dari survei Inggris yang mengumpulkan informasi tentang 9.859 remaja dalam kurun 2009 hingga 2015. Peserta, berusia 10 hingga 15 tahun. Data didapat dari studi longitudinal Understanding Society di Inggris

Mereka melaporkan jumlah jam yang mereka habiskan di media sosial pada hari sekolah biasa, serta tingkat kebahagiaan dilihat dari aspek kehidupan keluarga dan sekolah. Dua skala terpisah digunakan untuk mengukur kebahagiaan dan menguji masalah emosional atau perilaku.

Pada usia 13 tahun, sekitar setengah dari anak perempuan berinteraksi di media sosial selama lebih dari satu jam sehari. Sementara hanya sepertiga anak laki-laki melakukan hal sama.

Anak perempuan tetap menjadi pengguna utama media sosial saat mereka tumbuh dewasa. Pada usia 15 tahun, 59 persen anak perempuan dan 46 persen anak laki-laki berinteraksi di media sosial setidaknya satu jam sehari.

Para peneliti menemukan Penggunaan media sosial yang sering ini tampaknya membawa dampak pada kesehatan emosional anak perempuan. Sementara, tidak ada temuan serupa pada anak laki-laki.

Studi ini menunjukkan betapa skor kebahagiaan anak perempuan menurun seiring waktu. Ini berkaitan dengan kebiasaan penggunaan media sosial mereka antara usia 10 dan 15.

Pada saat yang sama, skor yang berhubungan dengan masalah emosional meningkat pada anak perempuan. Pun demikian, penelitian ini tidak membuktikan bahwa penggunaan media sosial yang berat menyebabkan masalah emosional.

"Sementara kesulitan sosial dan emosional anak laki-laki cenderung berkurang saat mereka bertambah usia, anak perempuan justru mengalami lebih banyak kesulitan," kata Booker.

Di luar perbedaan itu, anak laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami penurunan kebahagiaan pada rentang usia 10 dan 15 tahun. Hanya saja, anak perempuan mengalami penurunan lebih besar daripada anak laki-laki.

Anak perempuan yang mulai berkenalan dengan media sosial mungkin tidak sepenuhnya dipersenjatai untuk menangani konten yang mereka temukan di sana. Selain itu, mereka mungkin juga berinteraksi di media sosial dengan cara yang berbeda dari anak laki-laki.

"Ketika usia anak perempuan bertambah, mereka mungkin cenderung merasa bahwa membangun dan mempertahankan kehadiran daring dan profil media sosial itu penting, beda dengan anak laki-laki. Sehingga ketika anak perempuan tidak mendapatkan banyak komentar atau tanda suka pada unggahan tertentu, mungkin mereka menjadi lebih tertekan dan mengalami lebih banyak kesulitan," Booker memaparkan.

Bukan hanya itu, anak perempuan juga cenderung lebih sering membandingkan diri mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial daripada anak laki-laki. "Melihat dan mengomentari gambar yang difilter dan pos positif orang lain dapat menyebabkan perasaan tidak mampu," Booker menambahkan.

Keterbatasan studi Booker dan koleganya ada pada angka-angka yang mungkin dianggap tak signifikan karena data hanya mengukur penggunaan media sosial pada hari sekolah dan bukan akhir pekan.

Para penulis juga menjelaskan adanya peningkatan perilaku sedentari karena teknologi, juga mengakui bahwa masih terlalu dini untuk memahami efek jangka panjangnya pada kesehatan mental.

Booker berharap ini akan menjadi bukti yang berguna bagi para pembuat kebijakan untuk melihat apakah waktu yang dihabiskan di media sosial berdampak pada kesehatan. Sebab sebelumnya sudah ada juga imbauan bagi industri teknologi untuk membuat batasan waktu.

"Studi kami benar-benar mendukung hal ini, jumlah peningkatan waktu di dunia daring sangat berhubungan dengan penurunan kesejahteraan pada kaum muda, terutama untuk anak perempuan," terang Dr. Booker dalam pernyataannya. (Beritagar.id/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Eramas Gelar Kampanye Dialogis dan Doa Bersama 23 Juni
Seribuan Warga Hadiri Halal Bi Halal Masyarakat Simalungun Bersama Djarot Saiful Hidayat di Perdagangan
FKI 1 Sumut Komit Dukung Paslon Bupati Dairi Nomor Urut 2
Warga Pinggiran Rel Berharap Pada Djoss Ada Pemondokan Layak
BEM se-Jabar Kirim Surat Protes ke Kemendagri Terkait Komjen Iriawan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU