Home  / 
Cerpen
Karena Cinta Bukan Seperti Bulan Menjaring Matahari
* Karya: Mhd Rizky - SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 16 September 2018 | 22:16:13
Dewi dengar bahwa Fitri bakal merayakan hari ulang tahun. Pasti meriah. Seperti tahun lalu, birthday party yang digelar sahabat dekatnya di luar prediksi. Fitri menduga kegiatan pasti diisi dengan makanan superlezat.

Benar. Pestanya diadakan di taman belakang rumahnya. Setiap sudut dan gazebo diisi makanan. Di tengahnya ada band. Band lho, bukan kibor tunggal.
Tetamu yang hadir bukan hanya rekan sekolah, tapi anak-anak tajir rekan sekomunitasnya. Kawan-kawan dari tempat lesnya. Selain itu, putra-putri kolega orangtuanya pun datang. Pesta meriah itu seperti kawinan.

Yang paling mengesankan, ada artis. Sejumlah personel JKT 48 mengisi acara. Walaupun cuma sebentar, tapi sangat berkesan.

Untuk tahun ini, Fitri belum ada membocorkan sepotong pun rencana merayakan hari jadinya. Dewi ingin bertanya, tapi segan karena khawatir seolah-olah minta diundang.

Meski begitu ia sudah mengumpulkan uang, yang sumbernya sisa-sisa ongkos yang tiap hari diterimanya dari orangtuanya. Kadang, jika Fitri menjemput dan mengantar pulang, kan uangnya tidak jadi digunakan.

Komulatif dari simpanannya itu ingin dibelikan kado spesial untuk Fitri. Tapi bingung mau beli apa. Soalnya, sahabatnya itu anak orang kaya.

Semuanya sudah ada. Dewi berulang kali masuk ke kamar Fitri. Wuih... boneka ragam bentuk ada. Mulai Barbier mini hingga yang besarnya seperti anak bayi. Termasuk koleksi boneka yang sangat lengkap.

Di lain hal, uang Dewi cuma pas-pasan. Saking bingung memikirkan hendak membeli apa, ia ingin memberikan uang saja untuk Fitri. Tetapi, ah... apalah artinya uang segini.

Fitri aja tiap hari menghabiskan uang yang jumlah berlipat-lipat dari apa yang sudah terkumpul. Akhirnya ia memutuskan memberi lukisan wajah Fitri dalam bentuk karikatur.

Namun Dewi makin bingung. Kapan dikasih hadiah tersebut. Ia ingat hari lahir Fitri sudah dekat tapi kenapa belum diundang.

"Fitri masih chat dengan JKT 48?" pancing Dewi. "Enak jadi kamu, Fit. Punya kenalan artis!"

"Ah, kamu ini... memuji aja!"

"Sungguh lho, Fit. Aku kagum padamu," sebut Dewi.

"Ah. Kamu kagum tapi cowok yang kutaksir tak suka padaku," balas Fitri. "Ia justru lebih suka denganmu!"

"Siapa?"
Fitri diam tak menjawab. Dari sorot matanya Dewi menemukan kebencian di sana. Tetapi sungguh ia tak tahu siapa cowok yang dimaksudkan tersebut.

Anehnya, semakin didesak olehnya semakin Fitri diam. Karena desakan itu pula membuatnya menarik jarak dari Dewi.

Bila selama ini Fitri terus bersama Dewi tapi sekarang sudah berjarak. Jangankan menjemput, mengantar pulang sekolah saja, tidak. Padahal sejurusan.

Kawan-kawan di sekolah akhirnya tahu. Ada yang bilang, Fitri seperti bulan menjaring matahari. Ia suka tapi si cowok tak merasa apa-apa.

Tetapi Dewi tak mau menanggapinya dengan pikiran negatif. Mungkin Fitri punya urusan lain. Satu hal yang dipegangnya, Fitri adalah orang yang pernah membantunya. Dewi tak bisa melupakan itu.

Soal cowok, Dewi sadar ada pria yang suka padanya tapi ia mengacuhkannya begitu saja. Cowok itu tampan. Anak orang kaya, yang dirasa tak pantas baginya. Mungkin lebih tepat untuk Fitri. Lagi pula, Dewi belum mau pacaran karena masih sekolah.

Sudahlah, lupakan soal pria yang menaksirnya dan ditaksir Fitri. Dewi memrioritaskan ke ulang tahun sahabatnya itu. Apalagi lukisan wajah Fitri sudah dibingkai.
Dewi ingin bikin kejutan. Sama seperti setahun lalu, ia datang diam-diam ke rumah Fitri. Begitu mendekat, betapa terkejutnya ia karena rumah itu ramai dengan orang berpesta. Kenapa Dewi tidak mengundangku? Apa salahku? Apa karena aku orang miskin yang tak pantas hadir di pesta ulang tahun.

Ketika merenung dan berpikir-pikir sendiri, Dewi dikejutkan suara mamanya si Fitri. 

"Ayuk masuk. Ngapain di sini!" tarik perempuan yang malam itu ikut berdandan seperti putri dari kayangan. "Kami selama ini ke mana saja? Kok nggak pernah lagi menemanin Fitri?

"Iya, Bu," Dewi tergagap. "Saya menunggu kawan lain!"

Dewi tak dapat mengelak. Ia langsung masuk ke dalam. Hatinya ciut ketika mendekati Fitri.

"Fitri... maaf, aku datang walau tak diundang," ujarnya sambil menyodorkan tangannya. "Aku ingin menyerahkan ini!"

"Mana cowok itu?"

"Siapa sih, Fith?"

"Kamu itu jangan seperti kura-kura dalam perahu!"

Dewi terdiam beku. Ia tidak bisa bicara apa-apa ketika Fitri menarik tangannya ke dalam kamar. 

"Aku mencintainya, Dew. Bantulah aku," pinta Fitri yang semakin membuat Dewi bingung soalnya ia sungguh tak tahu tentang pria yang dimaksud Fitri. Apalagi ia sudah bertekad tak mau berurusan dengan pria soal cinta sebab masih sekolah.

"Jauhilah dia, Dew... biar ia dekat padaku!"

Dewi jadi baper dan terbawa sedih. Dihapusnya air mata Fitri yang tiba-tiba menitik. Dipeluknya Fitri dan dimintanya untuk tenang karena di luar banyak tamu-tamu.

"Janjilah, Dew... kau tidak bersamanya!"

"Aku bersumpah, Fit. Aku tak tahu duduk persoalannya. Aku sudah bertekad, tak mau berurusan dengan pria bila soal cinta!"

Dewi jadi bertahan di rumah Fitri. Hingga pesta usai, ia terus berbaur dengan warga demi membuktikan pada Fitri bahwa tidak ada hubungan dengan cowok yang dimaksud Dewi. (q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bupati Indramayu Tepis Isu Mundur karena Masalah di KPK
Sandiaga Minta Maaf soal Langkahi Makam Pendiri NU
Diduga Tidak Terima Diputuskan, Pria Bakar Diri dan Kekasihnya di Medan
Menag: Kartu Nikah Bukan Pengganti Buku Nikah
Polisi Atensi Tuntaskan Kasus Pengancaman Wartawan SIB di Nisel
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU