Home  / 
Cerpen
Dari Jendela SMA
* Karya: Rindi Puspita Sari - SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 5 Agustus 2018 | 19:45:33
Untuk pertama kali Ita terbuka hatinya. Kali ini pada pria yang suka nongol di jendela utara di bagian belakang kelasnya. Namanya Danu.

Nama lengkapnya Ita tak tahu karena yang memberi tahu nama pria itu pun sahabatnya, Bima. Biasanya, Ita cuek bebek pada pria. Itu sebabnya, meski sudah kelas XII tapi blom pernah pacaran.

Ita bukan tak ada kawan cowok. Justru rata-rata kawan kompanya pria. Ita juga bukan tak cantik. Rekan-rekannya bilang Ita setara dengan Miss Universe, tapi kalau didandan habis. Hanya saja, suer... Ita tidak fokus pada penampilan semu atau mengandalkan make-up.

Ia natural aja. Ke sekolah hanya pakai bedak tepung tanpa merk. Kadang pun terkesan norak karena bedaknya tidak rata. Apalagi di bagian dasar hidung. Di cekungan itulah selalu bedaknya tebal. Sudah begitu, ia anti deodorant yang karanya justru membuat ketiak semakin hitam. Ia justru memilih memakai sejenis tawas dicampur bedak wajah ke ketiak. Fungsinya hanya untuk menyerap keringat. Soal wangi atau aroma lain, ia tak peduli.

Bukan tak banyak pria yang naksir padanya, tapi Ita diam saja. Bahkan kawan kompaknya, Bima sempat naksir tapi ditampiknya. Alasannya, lebih memilih menjadikan sahabat ketimbang pacar. Kalau kawan, kan abadi. Kalau kekasih, bisa putus.

Ada juga Saut. Cowok tajir yang punya suara menggelegar ini terang-terangan ingin menjadi kekasih Ita, tapi lagi-lagi kandas karena si perempuan ingin bersahabat saja.

Cowok lain yang ingin mengasihinya ada Febri. Pria pemalu. Sebut juga Jefry, yang jago komputer tapi tetap ditolak Ita. Alasannya, tak enak pacaran sama pria gila teknologi sebab menomorsatukan komputer, smartphone dan apa saja ketimbang kekasihnya.

Seorang guru pun diketahui suka pada Ita, tapi ya itu tadi... ditolaknya. Ogah. Yang heran, pada Danu.

Kok bisanya Ita suka. Padahal Danu tidak tergolong istimewa. Cuma tiap pagi memerhatikan Ita dari jendela kelas. Kemudian bersuit dan bersiul. Bima tak hanya heran tapi jadi benci pada Ita. Ada cowok yang sempurna tak mau, tapi kok yang pas-pasan, disukai.

"Jadi kau suka sama Danu?" buru Bima. Ia tak yakin dengan perasaan Ita. "Matamu itu sudah harus direno. Atau syarafmu sudah ada yang putus? Biar tau aku membawamu berobat!"

Ita jadi mati kutu. Tak hanya Bima yang protes tapi kawannya yang lain pun tak setuju. Tetapi ia kadung suka. Pokoknya suka. Hanya saja, ia jadi malu kalau bicara soal Danu.

Soalnya, semua kawannya mencaci. Untuk menumpahkan perasaan, Ita menulis status di akunnya. Cinta tanpa bersuara, apakah aku sanggup...

Begitu terbaca sama Bima, langsung dibagikannya. Dari ratusan peng-like, hanya satu yang membuat jempol. Yang lainnya menerakan emoji mengejek. Yang lebih menyakitkan ada komen yang menuduh Ita mati rasa. Suka kok sama pria tak bermodal. Emangnya cinta bisa membahagiakan jika malam Minggu cuma duduk-duduk tanpa kacang Sihobuk? Emang cinta itu buta tapi ia butuh ongkos untuk ngapel, ngemal dan nonton.

Ke sekolah aja sering terlat karena ketinggalan angkot. Gimana nanti jika mau janjalan? Apa ada Gojek yang mau tarik tiga? Patahlah itu lingkar sepeda motor. Ha... ha... selera Ita memang langka.

Tak tahan terus dibully, Ita menjauh dari kawan-kawannya. Jika selama ini gabung di kantin, ia pilih di dalam kelas. Bila pulang sekolah, Ita sembunyi. Jika sekolah sudah sepi, baru bergegas pulang.

Kesedihannya pun terhibur karena Danu setia menunggu dan menemani Ita.

"Kamu jangan menulis status soal aku lagi ya!" pinta Danu. "Aku tersiksa dengan sikap kawan-kawanmu!"

Ita bungkam. Ia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Danu.

"Atau, aku bikin perhitungan pada mereka?"

Ia masih bisu. Ditatapnya Danu. Kemudian menunduk dan menggeleng.

"Apapun demi kamu, akan kulakukan, Ta!" paparnya. "Atau, jika Ita terpengaruh dengan mereka, ingin meninggalkanku, tinggalkanlah aku. Aku sudah siap sendiri. Aku janji, tak akan berpaling ke hati orang lain. Sampai kapanpun... sampai ajalku."

Ia jadi sedih. Air matanya menitik pelan.

"Jangan menangis," ujar Danu sambil menyeka air mata Ita dengan lembut. "Aku janji merawat rasa kita," lanutnya sambil bertelut di kaki Ita. "Untuk sementara, jangan aktif di medsos!"  

Ita diam saja. Ia mengangguk pelan. Hatinya ciut. Kalau tidak di status, di mana dicurahkan isi hatinya? Kawan-kawannya bukan membela tapi membenci mati. Untuk mengungkapkan langsung pada Danu, Ita tak mampu. Soalnya, perempuan tidak boleh agresif pada pria. Ntar dituduh cinta mati. Tapi, suer... Ita memang sangat suka pada Danu.

"Jadi kau emang sudah paku mati sama Danu," serbu Bima. "Kau ini bukan hidup di Taman Terlarang yang hanya dihuni dua orang. Ada dua juta pria garang yang bisa mendampingimu. Tau?"

Ita diam saja. Mau tumpah air matanya. Seorang Bima tega-teganya mencaci-maki kekasih hatinya. Salahkah seorang perempuan menyukai lelaki?

"Aku jadi malu berkawan samamu, Ta. Apa kata dunia? Rakyat Indonesia akan marah sama aku dan menuduhku tidak mau menuntut kawanku. Padahal, kau yang keras kepala!"

Ita masih diam. Kali ini tak tahan menanggung beban cacian. Ia menangis sejadinya. Terisak-isak. Tetapi Bima tak peduli. Ia semakin membully Ita.

Sama juga dengna kawan yang lain. Semua setuju dengan langkah Bima.

Tak tahan dengan hinaan, Ita melawan permintaan Danu. Ia menulis di status di akun medsosnya: pilihanku sesuai rasaku demi cintaku. Tak seorang pun kuizinkan mencampurinya, demi cintaku. Itulah aku! (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU